A. CONTOH
PERILAKU TAUBAT
- Membaca ISTIGFAR
- Melaksanakan shalat Sunnat Taubat
- Meminta maaf (bila dosa nya terhadapsesama manusia)
- Berjanji tidak akan melakukan perbuatan dosa lagi
Diantara contoh dan
tanda orang yang bertaubat adalah : Lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu
disebabkan takut terjerumus lagi ke dalam dosa. Selain itu orang yang bertaubat
akan lebih giat beramal karena merasa khawatir dosanya belum diampuni oleh
Allah Swt.
B. Contoh-Contoh
Perilaku Husnudzan
1. Husnudzan Kepada Allah SWT
Husnudzan kepada Allah SWT artinya berbaik sangka
kepada Allah Yang memiliki segala kesempurnaan serta bersih dari segala sifat
kekurangan. Dengan demikian, kita menyakini segala perbuatan dan ciptaan Allah
tiada yang sia-sia. Segalanya pasti ada hikmahnya.
Manifestasi perilaku husnudzan manusia kepada Allah
SWT adalah syukur dan sabar. Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa orang beriman
itu tidak pernah rugi. Jika ia diberi nikmat, maka dia bersyukur. Syukur adalah
kebaikan bagi dirinya. Dan jika ia diberi ujian dia bersabar. Sabar adalah
kebaikan bagi dirinya.
1. Syukur
Dalam QS Al-Baqarah [2] :152, Allah SWT berfirman, ''Maka
ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah
kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.'' Ayat ini secara
jelas dan gamblang memerintahkan kepada kita untuk selalu mengingat Allah dan
bersyukur atas segala nikmat-Nya.
Secara bahasa, syukur berarti berterima kasih kepada
Allah. Sedangkan Ar-Raghib Al-Isfahani, salah seorang yang dikenal sebagai
pakar bahasa Alquran, dalam Al Mufradat fi Gharib Al Quran, mengatakan
bahwa kata 'syukur' mengandung arti gambaran dalam benak tentang nikmat dan
menampakkannya ke permukaan.
Kesyukuran, pada hakikatnya, merupakan konsekuensi
logis bagi seorang manusia, yang notabene sebagai makhluk, kepada Allah,
sebagai Tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan berbagai nikmat. Namun,
kerap kali manusia terlupa dan tidak bersyukur atas karunia-Nya.
Ketidakbersyukuran manusia, biasanya disebabkan oleh
tiga hal. Pertama, salah melakukan ukuran/menilai. Dalam konteks ini maksudnya
bahwa manusia selalu mengukur suatu nikmat dari Allah itu dengan ukuran
keinginannya. Artinya, jika keinginannya dipenuhi, maka ia akan mudah untuk
bersyukur. Sebaliknya, jika belum dikabulkan, maka ia akan enggan untuk
bersyukur.
Penilaian seperti ini jelas bertentangan dan cenderung
menafikan nikmat yang diberikan. Penilaian yang benar adalah berdasarkan apa
yang kita peroleh. Karena, apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik di
hadapan Allah. Dan, belum tentu juga itu yang terbaik buat diri kita.
Perhatikan firman Allah, ''Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.'' (QS. Al Baqarah
[2] : 216).
Kedua, selalu melihat kepada orang lain yang diberikan
lebih banyak nikmat. Perilaku ini hanya menyuburkan iri, hasad, dan dengki kepada
orang lain. Sedangkan perilaku bagi orang beriman haruslah melihat kepada orang
yang kurang beruntung. Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim,
mengajarkan, ''Apabila seseorang di antara kamu melihat orang yang
dilebihkan Allah dalam hal harta benda dan bentuk rupa, maka hendaklah ia
melihat kepada orang-orang yang lebih rendah daripadanya.''
Ketiga, menganggap apa yang didapati dari nikmat Allah
adalah hasil usahanya. Perilaku ini menumbuhkan sifat kikir dan melupakan Allah
sebagai pemberi nikmat tersebut. Padahal, tidak ada satu nikmat pun yang datang
dengan sendirinya. Melainkan, Allah yang telah mengatur semuanya. Firman Allah
SWT, ''Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak
bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.'' (QS.
Luqman [31] : 12). Kini, mumpung Allah masih memberikan waktu, sudahkah kita
mensyukuri semua nikmat-Nya? Wallahu a'lam bis-shawab.
2. Sabar
Salah satu sifat yang dapat dijadikan parameter
kualitas keimanan seseorang adalah sabar. Semakin kuat keimanan seseorang
kepada Allah SWT, semakin kuat pula kesabaran yang dimilikinya, dan begitu
sebaliknya. Dengan begitu, iman dan sabar bagaikan dua sisi mata uang yang tak
dapat dipisahkan. ''Iman itu sabar,'' sabda Rasulullah SAW.
Sabar menurut bahasa adalah tahan menghadapi cobaan,
tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati, tabah,
tenang, tidak tergesa-gesa, dan tidak terburu nafsu. Sedangkan lawan dari sabar
adalah sedih dan keluh kesah. Dalam Alquran, sabar diartikan sebagai sikap
menahan diri atas sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah (QS.
Ar Ra’d [13] : 22).
Sabar tidak identik dengan ketidakberdayaan. Sabar
juga bukan merupakan kejumudan (statis), hanya berdiam diri dan tidak melakukan
apa-apa. Sabar adalah kemampuan mengendalikan diri untuk tidak mengambil
tindakan sebelum tepat saatnya. Sabar lebih cenderung kepada usaha untuk
menjaga kejernihan pikiran dan kebersihan hati, sehingga tidak mengambil
tindakan secara tergesa-gesa.
Oleh sebab itulah Allah memerintahkan orang-orang
beriman agar bersikap sabar dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan (QS. Al
Baqarah [2]: 155-157), sebagai ujian untuk menentukan kualitas keimanan
seseorang (QS. Muhammad [47]: 31 dan QS An Nahl [16] : 65). Allah SWT juga
menyatakan bahwa orang-orang yang besar imannya hanyalah orang yang sabar (QS.
Al Baqarah [2] : 177), hamba yang sabar adalah pribadi yang tidak pernah
mengeluh ketika cobaan datang menghantamnya, karena ia meyakini bahwa di balik
kesusahan dan cobaan itu terdapat kemudahan (QS. Al Insyirah [94]: 5-6) atau
hikmah kebaikan yang tidak ia ketahui (QS. Al Baqarah [2] : 216).
Untuk itulah Rasulullah mengatakan, ''Sungguh aneh
persoalan seorang Mukmin! Sesungguhnya semua permasalahannya adalah baik
baginya, hal ini tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang Mukmin. Jika
mendapatkan kebaikan maka ia bersyukur dan kesyukurannya itu menjadi hak
baginya, dan jika ditimpa kesusahan maka ia bersabar dan kesabaran itu menjadi
baik baginya.'' (HR Muslim).
Adapun buah dari kesabaran yang dilakukan seseorang
adalah ridha, kedamaian, kebahagiaan, terciptanya 'izzah (keagungan),
kemuliaan, kebaikan, kemenangan, bantuan, dan kecintaan dari Allah. Dan, puncak
dari semua itu adalah buah yang akan didapat di akhirat, yaitu kenikmatan abadi
yang tidak terbatas (QS. Az Zumar [39] : 10).
Siapa pun kita hendaknya mampu mewujudkan dan
mengedepankan sikap sabar ini dalam setiap aspek kehidupan. Tak sepatutnya kita
hanya pandai berkeluh kesah dan berputus asa apabila menghadapi persoalan.
Karena, keluh kesah, tidak tenang, tidak tabah, cepat marah, dan cepat putus
asa adalah sifat yang tidak layak disandang oleh seorang Muslim. Wallahu
a'lam bis-shawab.
2. Husnudzan Kepada Diri Sendiri
Setiap orang yang berperilaku husnudzan kepada diri
sendiri akan berpeilaku positif terhadap dirinya sendiri. Di antara perilaku
positif tersebut adalah perilaku percaya diri dan perilaku gigih.
1. Percaya Diri
Percaya diri termasuk sikap dan perilaku terpuji yang
harus dimiliki oleh setiap umat Islam. Seseorang yang percaya diri tentu akan
yakin terhadap kemampuan dirinya, sehingga ia berani mengeluarkan pendapat dan
melakukan suatu tindakan. Sikap optimis terhadap rahmat dan pertolongan Allah
akan membawa kepada sikap percaya diri. Tentunya percaya diri dalam menjalan
segala yang tidak dilarang oleh Allah SWT.
Imam Malik, dalam bukunya Al-Muwatha' meriwayatkan
bahwa Abu 'Ubaidah ibn al-Jarrah, sahabat Nabi yang memimpin pasukan Islam
menghadapi Romawi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, suatu ketika
menyurati Umar, menggambarkan kekhawatirannya akan kesulitan menghadapi pasukan
Romawi.
Umar menjawab, "Betapapun seorang Muslim ditimpa
kesulitan, Allah akan menjadikan sesudah kesulitan itu kelapangan, karena
sesungguhnya satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kelapangan.
Kesulitan dan kelapangan adalah dua hal yang
senantiasa berputar menimpa diri manusia, silih berganti. Kesulitan identik
dengan kegagalan dan kesengsaraan. Seseorang yang ditimpa kesulitan, maka ia
tengah berkutat dengan kekhawatiran dan kesedihan.
Kelapangan yang dimaksud dalam jawaban Umar merupakan
bentuk penyikapan terhadap kesulitan, mengubah energi negatif menjadi energi
positif. Kelapangan akan mampu mengalahkan kesulitan tatkala dalam diri pemilik
kesulitan terpatri sikap optimisme.
Optimisme tidak berarti kepercayaan diri berlebih,
bukan pula kepasrahan jiwa. Akan tetapi, sebentuk semangat yang bersemayam
dalam hati untuk senantiasa berusaha dan berupaya ketika kesulitan menimpa.
Di samping itu, dalam konteks seorang Muslim,
optimisme merupakan pemicu agar kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan
suatu pekerjaan, walaupun baru saja menyelesaikan pekerjaan yang lainnya. Tiada
kekosongan setelah satu bidang terpenuhi.
Rasulullah Saw mengajak umatnya agar terus-menerus
bekerja dan berusaha tanpa menggantungkan diri kepada orang lain. Sabda beliau,
"Demi Tuhan, sesungguhnya seseorang di antara kamu mengambil tali,
kemudian mengikat sekeping kayu dan memikul di punggungnya untuk dijual,
sehingga Allah memelihara air mukanya dari meminta-minta, adalah lebih baik
daripada ia meminta kepada orang lain, baik ia diberi maupun tidak." (HR
Bukhari).
Sepatutnya sikap optimisme tetap tersemai di hati umat
Islam. Membangun sikap optimisme, setidaknya ada dua hal yang seyogianya kita
lakukan, Pertama, melakukan perbaikan diri lewat usaha-usaha konkret dan amal
nyata. Sesungguhnya keterpurukan menimpa umat Islam karena kita belum mampu
menghasilkan karya berharga bagi umat. Kata belum menjadi perbuatan. Konsep
belum berwujud aksi.
Kedua, yakin akan ada kelapangan di hari kemudian.
Kelapangan yang diperoleh dari kesungguhan, kontinuitas beramal, dan berinovasi
tiada henti dengan dibarengi keyakinan adanya bantuan Ilahi. "Sesungguhnya
kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia," demikian kata
Muhammad Abduh.
2. Gigih
Seorang yang berbaik sangka kepada Allah terhadap
dirinya sendiri tentu akan berperilaku gigih, karena ia yakin bahwa dengan
berperilaku gigih apa yang diinginkan akan tercapai. Dorongan agar kita gigih
berusaha adalah spirit yang terkandung dalam QS Ar Ra’d [13]: 11
“… Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu
kaum sehingga mereka merobah keadaaan yang ada pada diri mereka
sendiri.…”
Sikap gigih yang sejati dicontohkan oleh Rasulullah
saw. Sesampainya Rasulullah saw dan kaum Muhajirin di Madinah, agenda yang
Beliau prioritaskan adalah memperat tali persaudaraan (ukhuwah) antara
Muhajirin dan Anshar. Ikatan kuat inilah yang mendasari kerukunan, kasih
sayang, serta berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dengan pengorbanan harta
benda, jiwa, dan raga. Hal ini mereka tumpahkan hanya untuk mengharapkan
keridlaan-Nya. Bahkan, kaum Anshar senantiasa mengutamakan kaum Muhajirin,
sekalipun mereka dalam keadaan susah.
Terdengarlah pada saat itu, Abdurahman bin 'Auf dari
Muhajirin dipersaudarakan dengan sahabat Sa'ad bin Rabi'. Sa'ad bin Rabi'
adalah salah seorang konglomerat Madinah. Sa'ad mempersilakan kepada Abdurrahman
untuk mengambil apa saja yang ia inginkan untuk memenuhi kebutuhannya.
Abdurrahman bin 'Auf selaku seorang sahabat yang
zuhud, wara', jujur, serta baik akhlaknya tidak serta-merta mengabulkan
permohonan saudaranya ini. Ia tidak mau menerima sesuatu tanpa didasari oleh
usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya. Oleh karenanya, Abdurrahman meminta
kepada Sa'ad untuk mengantarkannnya ke pasar. Kepiawaian berdagang yang ia
miliki tidak disia-siakannya. Ia tidak hanya berpangku tangan untuk mendapatkan
belas kasih orang lain, selagi masih ada kemampuan untuk berusaha.
idak lama kemudian, karena sifatnya yang jujur, ulet,
serta kerja keras, akhirnya ia pun menjadi pedagang yang sukses, sehingga ia
menjadi seorang konglomerat yang dermawan, serta senantiasa menginfakkan
hartanya demi keberlangsungan dakwah.
Dari kisah tersebut, kita bisa memetik hikmah, di
tengah-tengah himpitan krisis ekonomi yang berkepanjangan ini, bangsa Indonesia
sangat membutuhkan semangat Abdurahman bin 'Auf-Abdurahman bin 'Auf yang baru
guna menyegarkan dan menghidupkan bangsa ini, sehingga mampu mengembalikan
identitas bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia. Karena
selama ini, kita telah kehilangan jati diri sebagai bangsa besar, disebabkan
pemimpin-pemimpinnya yang selalu berharap untuk mendapatkan bantuan dari bangsa
lain. Hal ini mengakibatkan ketergantungan rakyatnya untuk senantiasa
mendapatkan sesuatu tanpa didasari usaha.
Bukankah bangsa ini sangat kaya dengan sumber daya
alamnya? Ini adalah modal dasar yang telah kita miliki. Untuk itu, selanjutnya
tinggal bagaimana kita mampu mengolahnya. Insya Allah dengan kejujuran,
keuletan, dan kerja keras di antara kita, baik pejabat maupun rakyat, bangsa
ini akan kembali menjadi bangsa yang diperhitungkan di kancah dunia. Semoga!
Wallahu a'lam bis-shawab.
3. Husnudzan Kepada Sesama Manusia
Husnudzan atau berbaik sangka terhadap sesama manusia merupakan
sikap mental terpuji yang harus diwujudkan melalui sikap lahir, ucapan, dan
perbuatan yang baik dan diridhai Allah SWT dan bermanfaat.
Sikap, ucapan dan perbuatan baik, sebagai perwujudan husnudzan
itu hendaknya diterapkan dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga serta
bermasyarakat.
1. Kehidupan Berkeluarga
Tujuan hidup berkeluarga yang islami adalah
terbentuknya keluarga atay rumah tangga yang memperoleh ridha dan rahmat Allah
SWT, bahagia serta sejahtera baik di dunia maupun di akhirat.
Agar tujuan luhur tersebut terwujud, maka suami
sebagai kepala keluarga dan isteri sebagai ibu rumah tangga, pendamping suami,
hendaknya saling berperasangka baik, tidak boleh saling curiga, saling memenuhi
hak dan melaksanakan kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya.
Demikian juga hubungan antara anak-anak dan orang tua
hendaknya dilandasi dengan perasangka dan saling pengertian. Anak-anak berbakti
pada orang tuanya dengan bersikap terpuji dan menyenangkan kedua orang tua.
Orang tua pun hendaknya memberi kepercayaan yang diperlukan anak un tuk
mengembangkan diri dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.
1. Kehidupan Bertetangga
Tetangga adalah orang-orangnya yang tempat tinggalnya
berdekatan dengan tempat tinggal kita. Antara tetangga yang satu dengan
tetangga lainnya hendaknya saling berperasangka baik dan jangan saling
mencurigai.
Kehidupan bertetangga dianggap saling berperasangka
baik dan tidak saling mencurigai apabila antara lain bersikap dan berperilaku
berikut ini:
a.
saling menghormati
Antara tetangga yang satu dengan tetangga lainnya
hendaknya saling menghormati dan menghargai, baik melalui sikap dan ucapan
lisan atau melalui perbuatan sikap. Ucapan lisan dan perbuatan menghormati
serta menghargai tetangga termasuk akhlaq mulia, serta termasuk tanda-tanda
beriman. Rasulullah saw bersabda :
مَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْاخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ (رَوَاهُ الْمُسْلِم)
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir, maka hendaknya ia memuliakan tetangganya.” (HR. Muslim)
b.
berbuat baik kepada tetangga
Perintah berbuat baik kepada tetangga tercantum dalam
QS. An Nisa [4] : 36
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang
dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, ibnu
sabi dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong dan membangga-banggakan diri.”
Berbuat baik kepada tetangga adalah dengan cara
melakukan kewajiban terhadap tetangga dan perbuatan-perbuatan baik lainnya yang
bermanfaat itu.
Bersikap, bertutur kata, dan melakukan
perbuatan-perbuatan yang menyakiti dan merugikan tetangga termasuk perbuatan
yang diharamkan Allah SWT. Pelaku tidak akan masuk surga. Rasulullah saw
bersabda:
لاَ يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بَوَائِقَهُ (رَوَاهُ الْمُسْلِم)
“Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa
aman dari gangguan-gangguannya.” (HR. Muslim)
c.
Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa
dan Bernegara
Tujuan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
ialah terwujudnya kehidupan yang aman, tentram, adil dan makmur, di bawah
ampunan dari ridha Allah SWT.
Agar tujuan luhur tersebut terwujud salah satu usaha
yang harus ditempuh adalah sesama anggota masyarakat atau sesama warga negara
saling berperasangka baik yang diikuti dengan berbagai sikap dan perilaku
terpuji yang bermanfaat. Sesama mereka juga tidak boleh saling berprasangka
buruk yang iikuti dengan berbagai sikap dan perilaku tercela yang merugikan
serta mendatangkan bencana.
Sikap dan perilaku terpuji yang harus diwujudkan dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara itu, antara lain:
1. Generasi tua menyayangi generasi muda, antara lain
dengan membimbing mereka agar kualitas kehidupannya dalam berbagai bidang
positif lebih maju daripada generasi tua. Sedangkan generasi muda hendaknya
menghormati generasi tua dengan sikap, ucapan, dan perbuatan yang baik dan
bermanfaat, seperti melaksanakan segala nasihat mereka yang baik dan berguna.
Rasulullah saw bersabda :
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَ لَمْ يَوَقِّرْ كَبِيْرَنَا (رَوَاهُ
اَحْمَد)
“Bukan dari
golongan kami (umat Islam) orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak
menghormati yang tua.” (HR. Ahmad)
2. Sesama anggota masyarakat atau sesama warga negara hendaknya
saling menolong dalam kebaikan, serta ketaqwaan dan jangan saling menolong
dalam dosa serta pelanggaran.
Tolong menolong dalam
kebajikan sesama anggota masyarakat atau sesama warga negara itu antara lain:
a. Pemerintah dan rakyat dari kelompok kaya berusaha
bekerja sama untuk menghilangkan kemiskinan. Kelompok kaya mengeluarkan
sebagian hartanya untuk menyantuni kaum dhuafa’ melalui zakat, infaq dan
sedekah.
b. Pemerintah dan masyarakat hendaknya bekerja sama dalam
memberantas kejahatan dan kemungkaran yang muncul di masyarakat dengan cara
yang bijaksana, sesuai dengan hukum yang berlaku.
C. Membiasakan perilaku husnuzhan dalam
kehidupan sehari-hari.
Setiap muslim atau muslimah hendaknya membiasakan diri
berperilaku husnuzhan baik terhadap Allah SWT, diri sendiri maupun terhadap
sesama manusia. Hidup adalah pencarian kebaikan, karena "Tuhan adalah
sumber kebaikan yang tersembunyi".
Diri kita ini tak pernah berguna jika tidak senantiasa
mencari. Mencari adalah mengupayakan; mencari adalah memikirkan; mencari adalah
kemaslahatan; kemaslahatan adalah gerak: gerak adalah langkah yang positif.
Sebaliknya adalah kevakuman dan diam. Karena vakum dan diam itu berarti netral
dan tenggelam, berarti awal dari segala kemafsadahan.
Tidak ada gerak tanpa semangat, yaitu ide dan
pemikiran. Semangat juga berarti ketulusan; dan tiada ketulusan tanpa akal
fikiran. Makanya tindakan orang gila itu netral (tidak bisa dihakimi), dan
tindakan orang waras adakalanya baik, adakalanya buruk. Bisa baik karena
menggunakan akalnya, dan buruk karena melampiaskan hawa nafsunya.
Yang pertama: akal fikiran ==> ketulusan ==>
ide dan pemikiran ==> semangat ==> gerak menuju ke kebaikan
dan kemaslahatan.
Kebalikan dari itu: hawa nafsu ==> kedengkian
==> kepongahan ==> gerak menuju kemafsadahan.
Orang diam itu tidak berdasar, makanya tenggelam,
gara-gara menganggurkan akalnya. Statusnya hampir kayak orang gila. (Lain
dengan orang istirahat, karena istirahat, selama itu sesuai kebutuhan, adalah
bagian dari gerak). Patah semangat dan putus asa, lebih parah lagi, adalah
minus dan merupakan awal dari segala kemafsadahan.
Orang yg semangat tentu dia bahagia dan tentram.
Semangat dan gerak adalah bukti dari adanya kebahagiaan dan ketentraman.
Makanya Allah selalu mengaitkan "pahala" --sebagai konsekuensi
gerak-- (lahum ajruhum 'inda rabbihim) dengan kemantapan-keberanian-
ketidakkhawatiran (wa laa khaufun 'alaihim) dan
kebahagiaan/ketentraman/ketidaksedihan (wa laa hum yahzanuun) dalam ayat
al-Baqarah : 277.
Sebaliknya, putus asa adalah akibat dari kesedihan,
dan kesedihan mempunyai kaitan erat dengan kebodohan sebagaimana kebahagiaan
dan ketentraman berjalinan dengan kecerdasan dan intelektualitas.
Itu semua adalah prinsip dasar manusia hidup. Adapun
hasil, besar kecilnya, itu tergantung proses kesungguhan dan keteledorannya. (wall-ladziina
jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulana) "Dan orang-orang yang
bersungguh-sungguh mendekatiKU, pasti Aku tunjukkan jalannya" .
(al-Ankabut: 69)
Prinsip seperti itu menunjukkan kedirian manusia.
Kedirian adalah totalitas ide dan pemikiran dari dalam diri sendiri. Kedirian
itu tidak identik dengan ketidakperdulian, kecuekkan, dan acuh tak acuh. Karena
kecuekan, acuh tak acuh, dan sebangsanya itu sebanding dengan kebodohan, hampir
setengah dari kesombongan. Kedirian adalah penyerapan dan filterisasi informasi
sehingga menyusun sebuah keutuhan ide dan pemikiran. Walaupun ada beberapa
tiruan/takliid tapi seakan-akan keluar dari diri sendiri, karena telah difilter
dengan akal sehat tentunya.
Pemikiran dan ide di sini berarti kemantapan (akan
sebuah kebenaran). Di sinilah relevansinya firman Allah SWT "fa idzaa
'azamta fatawakkal 'alaa Allah" (jika kamu sudah mantap,
bertawakkallah pada Allah) (Ali Imran: 159). Kemantapan di sini sebanding
dengan kepengetahuan, keberanian, dan ketegasan.
Ringkasnya, gerak-kemantapan-kebahagian itu harus
saling terkait. Kalau sudah bisa mengkaitkan ketiganya, baru boleh bertawakkal.
Semoga bermanfaat,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar