Rabu, 13 Februari 2013

MAKALAH PERBANDINGAN AGAMA



MAKALAH
MATA KULIAH PERBANDINGAN AGAMA
TENTANG
STUDY HISTORIS TENTAG AGAMA
DOSEN PENGAMPU : H.M.SHOLEH SYAR’I, S.AG.








Oleh Kelompok I
Nama              : HUSNIAH
                          ALWAN ZAMRONI
Semester    : VI




PROGRAM KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI (IAIH) PANCOR
2012


KATA PENGANTAR

       Fuji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah,  karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas tentang Study Historis Tentang Agama.
            Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari banyak kekeliruan dan kesalahan baik dari bahasa maupun penulisan dan kesemuanya itu tak lepas dari sifat manusia yang bahru, untuk itu kami dari penyusun mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan.
Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat.

                                                                                          Pancor, Januari 2012
                                                                                          
Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar isi

 

Cover              

Kata pengantar.........................................................................................          ii

Daftar Isi..................................................................................................          iii

BAB I PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang.............................................................................          1

2.      Tujuan..........................................................................................          1

BAB II PEMBAHASAN

1.     Kelahiran.....................................................................................          2
2.     Kepemimpinan.............................................................................          7
3.     Perjuangan...................................................................................          10
4.     Karya...........................................................................................          13
BAB III PENUTUP
Kesimpulan..............................................................................................          16



















BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Agama adalah satu doktrin dan realitassonal yang ada pada manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat, karena agama ada sejak manusia ada. Artinya, agama itu seumur dengan usia manusia. Di balik itu, dapat dipahami bahwa sejarah umat manusia adalah sejarah agama-agama, begitu juga sebaliknya, sejarah agama-agama adalah sejarah manusia.
Sejarah agama-agama adalah sejarah umat manusia dengan aneka ragam tindakan manusia yang terjadi pada masa lalu dengan sandaran doktrin agama, karena doktrin agama yang mampu membentuk kepribadian umat manusia. Maka dalam kenyataanya beragam pengalaman ajaran agama bagi pemeluknya sangat ditentukan oleh pemahaman keagamaannya.
Perkembangan agama-agama erat juga kaitannya dengan masalah asal usul dan tokoh agama, yang dikaitkan dengan lingkungan yang mengitarinya, termasuk juga lingkungan dari tokoh agama, dimana ia dilahirkan. Sejarah agama juga secara tidak langsung mengkaji persamaan dan perbedaan eksistensi, baik doktrin dan pemahamannya maupun doktrin dan pengalamannya. Kesemuanya merupakan pengalaman pemeluk agama sebagai corak dari pengalaman sejarah agama-agama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

Sejarah Agama-Agama

            A. Ruang Lingkup dan Kedudukan
Agama adalah satu doktrin dan realitassonal yang ada pada manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat, karena agama ada sejak manusia ada. Artinya, agama itu seumur dengan usia manusia. Di balik itu, dapat dipahami bahwa sejarah umat manusia adalah sejarah agama-agama, begitu juga sebaliknya, sejarah agama-agama adalah sejarah manusia.
Sejarah agama-agama adalah sejarah umat manusia dengan aneka ragam tindakan manusia yang terjadi pada masa lalu dengan sandaran doktrin agama, karena doktrin agama yang mampu membentuk kepribadian umat manusia. Maka dalam kenyataanya beragam pengalaman ajaran agama bagi pemeluknya sangat ditentukan oleh pemahaman keagamaannya.
Perkembangan agama-agama erat juga kaitannya dengan masalah asal usul dan tokoh agama, yang dikaitkan dengan lingkungan yang mengitarinya, termasuk juga lingkungan dari tokoh agama, dimana ia dilahirkan
            B. Komponen dan Klasifikasi Agama
Pengertian agama belum ada satu kesepakatan yang jelas dari para tokoh agama. Artinya, masing-masing tokoh agama memiliki batasan tertentu dalam mendefinisikan agama. Pendefinisian masalah agama sangat beragam, dan lebih dari 48 definisi. Para psikolog cenderung mengatakan bahwa agama pada dasarnya adalah berlakunya aturan yang sakral atas profan (suci).
        1. Komponen-Komponen Agama
Komponen agama maksudnya adalah unsur-unsur yang menjadi indikator untuk memahami agama. Dengan adanya komponen tersebut, maka dapat dimengerti mana yang agama dan mana yang bukan. Menurut Joachim Wach, paling tidak ada 3 macam unsur-unsur agama.
      a) Komponen Thought
Arti dasar dari kata thought adalah pemikiran yang mengandung makna semua yang dapat dipikirkan untuk diyakini. Sesuatu yang termasuk komponen tought meliputi aspek teologi, mitologi, dan doktrin atau dogma. Teologi adalah ajaran yang membicarakan tentang keyakinan terhadap Tuhan, seperti :siapa Tuhan, hubungan antara manusia dengan Tuhan, begitu pula mitologi, merupakan serangkaian cerita yang mengandung nilai spiritual sehingga menumbuhkan keyakinan pada kekuatan spiritual tersebut.
      b) Komponen Ritual
Masalah ritual pada dasarnya merupakan ajaran agama tentang tata cara pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk peribadatan. Pada komponen ini, tentunya lebih ditekankan pada aspek nilai spiritual yang bersifat normatif. Masalah ritual juga sebagai karakteristik suatu agama, sebab inti ajaran agama adalah berbicara masalah ritual yang bersifat spiritual. Artinya, pada hal-hal yang bersifat spiritual jiwa agama itu yang sebenarnya.
      c) Komponen Fellowship
Fellowship dalam masalah keagamaan dikenal sebagai embracer (pemeluk, peganut, pengikut) suatu agama baik dalam arti pribadi atau kelompok. Suatu agama erat kaitannya dengan pemeluk. Artinya, tanpa pengikut berarti agama tidak berkembang atau tidak punya nilai sejarah. Disamping tokoh agama, maka pemeluk agama merupakan penentu keberadaan agama tersebut.
       2. Klasifikasi Agama-Agama
Konsep klasifikasi agama sanga beraneka ragam, tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Ada yang berangkat dari pandangan normative yang memunculkan aspek substansinya yang efeknya akan lahir pembicaraan kebenaran agama. Umumnya, klasifikasi semacam itu di satu sisi memantapkan keyakinan keagamaan, namun di sisi lain berefek adanya agama yang tersudutkan.
Klasifikasi agama yang cenderung deskriptif bernuansa obyektif dan bersifat terbuka menerima keberadaan agama manapun. Klasifikasi semacam ini tergantung pada saudut pandangnya, namun sangat terbuka dan universal.
            C. Teori Asal-Usul Agama-Agama
Prof.H.A. Mukti Ali mengemukakan beberapa teori tentang asal-usul agama. Menurut beliau teori tentang asal usul agama itu paling tidak ada 3 macam teori :
        1. Teori Evolusi
Ilmuan agama juga menggunakan teori evolusi dalam mencari asal-usul agama. Kekuatan di luar diri manusia yang diyakini dan dipercaya sebagai elemen yang dominan pada diri manusia telah mengkristal menjadi suatu kekuatan yang menjadikan manusia itu sebagai sesuatu yang bergantung secara spiritual, sehingga harus selalu berhubungan secara rutin dan intensif.
Frederich Max Muller mengintrodusir asal-usul dan kepercayaan umat manusia itu berkembang dari polytheistic dan henotheistic menuju monotheistik. Teori selanjutnya adalah aliran antropology evolusionisme dan psikologi evolusionisme.
        2. Teori Oer –Monotheisme
Teori ini berangkat dari fakta bahwa suku primitif pada awalnya adalah penyembah Tuhan yang satu. Teori ini melakukan pandangan bahwa pada mulanya monotheisme merupakan agama dasar yang telah manusia peluk.
 Perubahan ini pada dasarnya bergerak secara linear dan dipengaruhi oleh kondisi geografik, antropologik, dan sosiologiknya yang pada akhirnya terjadi penyimpangan dari aslinya. Teori ini bertentangan dengan teori evolusi, ketika nampaknya terjadi perbedaan arah yang satu maju ke depan, dan yang lain mundur ke belakang. Namun, titik persamaan keduanya beranggapan bahwa asal-usul agama berasal dari bangsa primitif sebagai basic tumbuhnya agama-agama masyarakat pada umumnya.
        3. Teori Relevasi                                                     
Kata relevasi berarti wahyu, berarti semua agama itu adalah diwahyukan dari sumbernya, yakni Tuhan. Teori ini sependapat dengan Oer-Monotheisme, karena relevasi juga mengakui Tuhan yang satu, hanya berbeda dalam substansi sumbernya. Oer-Monotheisme cenderung mengaitkan dengan bangsa primitive sebagai asal-muasalnya (the origin), sedangkan relevasi mengakui doktrin monotheisme ini adalah dari kitab suci dan bersifat revelatif, merupakan ajaran langsung daru Tuhan.
           
           E. Konsep Toleransi Beragama
Adanya ajaran agama yang bersifat normatif memberikan peluang untuk munculnya konflik di tengah umat beragama, baik internal maupun eksternal. Masalah normatif pada agama telah mempengaruhi keyakina agama secara radikal yang melahirkan adanya kecenderungan ke arah fundamentalisme. Sikap pemeluk agama yang fundamentalistik cenderung menganggap orang lain berbeda, bahkan bertentangan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemeluk agama yang menerima ajaran agama dalam konteks keyakinan, bukan pemahaman. Artinya, agama hanya didudukan sebagai suatu sistem krido yang eksklusif dan tidak affair.
Umat beragama yang cenderung eksklusif tersebut memberikan ekses terisolirnya komunitas tersebut dari khalayak dan pada akhirnya menjadi statis. Beragama statis menjadikan sikap tidak toleran, bahkan berdampak makin menajamnya konflik dan pertentangan di kalangan umat beragama. Tidak ada toleransi di antara umat beragama karena lemahnya studi deskriptif bagi umat beragama, sehingga komunitas masing-masing pemeluk berjalan secara parsial dan terpisah.























BAB III PENUTUP

1. KESIMPULAN

     Peneliti, Dr. Syamsuddin Arif, dalam bukunya, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran  (2008),  sudah memberikan koreksi terhadap Chittick dalam menjelaskan konsep agama Ibn Arabi. Tanpa menafikan sisi kontroversial Ibn Arabi sendiri, tokoh sufi ini pun tetap menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sah di dalam pandangan Allah SWT. Setelah Nabi Muhammad saw diutus, maka pengikut agama-agama para Nabi sebelumnya, wajib beriman kepada Nabi Muhammad saw dan mengikuti syariatnya. Sebab, dengan kedatangan sang Nabi terakhir, maka syariat agama-agama sebelumnya otomatis tidak berlaku lagi. “Fa inna syari‘ata Muhammadin shallallahu alayhi wa sallama nasikhah,” tulis Ibn Arabi.
Ilmuwan studi agama akan dikatakan sebagai ilmuwan hebat, menurut metode ini, jika dia tidak bersikap terhadap kebenaran agama-agama, alias memandang semua agama benar, menurut agamanya masing-masing. Jika ditanya pada dia, agama mana yang benar, dia akan menjawab, “Semua agama benar menurut pemeluknya masing-masing.” Atau dia menjawab, “Semua agama benar, karena sama-sama merupakan jalan yang sah menuju Tuhan yang sama.”  Minimal, saat mengajar di kampus, dia dituntut bersikap ilmiah, alias “netral agama.”


 

 

1 komentar: