Rabu, 13 Februari 2013

contoh proposal



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Permasalahan
A.    Latar Belakang
Dewasa ini, banyak sekali permasalahan-permasalahan  fundamental yang terjadi dalam praktek ibadah seorang muslim. Salah satu permasalahan fundamental yang kian menjamur adalah menyangkut praktek dasar ajaran Islam.
Dasar ajaran Islam yang terdiri dari aqidah, syari’ah, dan akhlak sering sekali dilupakan keterkaitannya. Contohnya:  seseorang melaksanakan shalat, berarti dia melakukan syari’ah. Tetapi shalat itu dilakukannya  untuk  membuat kagum orang-orang  di  sekitarnya,  berarti dia tidak melaksanakan aqidah. Karena shalat itu dilakukannya bukan            karena Allah SWT, maka shalat itu tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri ataupun orang lain.
Alhasil, dia tidak mendapatkan manfaat  pada akhlaknya. Itulah yang menjadikan suatu perbuatan yang seharusnya mendapat ganjaran pahala, tapi  malah  menjadi suatu kesia-siaan karena tidak dilakukan semata-mata karena Allah[1].
Tentunya sebagai Da’i seyogyanya memberikan semangat agar lebih meningkatkan tentang pemahaman ajaran islam bagi remaja/pemuda di dusun penyaong desa masbagik timur, Karena kata pepatah “pemuda masa kini adalah pemimpin masa depan”.  Diskursus mengenai peran pemuda dalam membangun sebuah negara tidak akan pernah dikenal habisnya. Tampak sudah mendarah daging dalam segala bentuk perjuangan pemuda di manapun ia berada. Ketika pemuda ia berkarya, berjuang dan berkorban untuk negara, dan ketika ia semakin matang dan dewasa, negara memberikan kesempatan baginya untuk mengabdikan diri sebagai “pelayan negara”.
Tak pelak, gairah perjuangan pemuda selalu hidup dan menghidupkan romantika perjuangan dan juga perubahan di segala penjuru dunia. Pemuda lah yang menggagas perubahan, mendorong kebuntuan, dan menemukan sebuah solusi atas tantangan negara bahkan dunia. Kata “pemuda” akan membuat orang berpikir tentang energi yang berlebih, semangat yang membara, kekuatan yang tiada habisnya, daya kreasi yang tak pernah terhenti, dan generasi untuk kepemimpinan negara di masa depan.
Pemuda memiliki semangat pergerakan yang membara dalam jiwa. Hal inilah yang sebenarnya menjadi salah satu alasan mengapa pemuda memiliki peran yang penting dalam masyarakat. Karena semangat pergerakan mereka yang jika dilaksanakan dalam rute yang positif akan menciptakan perubahan-perubahan, serta pengaruh dalam masyarakat, sehingga tercipta pula tatanan yang baik. Peran pemuda itu sendiri dapat sebagai subjek penggerak perubahan, pencipta ide kreatif, sekaligus objek yang akan menjadi contoh nyata dalam perubahan tersebut.
Sejarah mencatat ini dengan sangat baik, bagaimana pemuda tangguh bernama Christopher Colombus menembus samudra atlantik dan menemukan benua Amerika yang kini bahkan menjadi pemimpin peradaban dunia. Atau bagaimana seorang Aung Sang Suu Kyi, seorang pejuang demokrasi di Myanmar, berjuang dengan penuh kesabaran, tak mengenal kata “menyerah atau berhenti” dalam memperjuangkan hak-hak bagi rakyat Myanmar yang ia cintai.
Nelson Mandela dari Afrika Selatan juga memberikan sebuah catatan sejarah yang sangat mengangumkan, tokoh anti-apartheid ini rela meninggalkan kehidupan normalnya dan lebih memilih untuk me-wakafkan dirinya untuk bangsanya yang terjajah oleh orang kulit putih. Dan tentunya kita semua sama-sama mengenal Ir.Soekarno, seorang yang lebih memilih untuk berkorban untuk Indonesia, bermimpi akan menjadi Presiden Indonesia, meski saat itu “Republik bernama Indonesia” belumlah lahir.
Mendegar kata pemuda saja, pasti hal pertama yang terlintas di kepala kita adalah tentang semangat, enerjik, dan juga idealisme. Ya, memang sederetan kata itulah yang kurang lebih menggambarkan betapa hebatnya kobaran perubahan yang diusung oleh kelompok pemuda ini. Kita ketahui bersama juga bahwa pemuda merupakan tokoh “pertengahan” antara anak-anak dan orang tua. Dengan peranannya yang cukup strategis tersebut, seorang pemuda mampu menyuarakan perbaikan secara lebih kuat dan tegas. Demikianlah adanya, potensi pemuda sungguh tak diragukan lagi keshahihannya.
Dari paparan awal di atas, sudah jelas dapat kita tarik pemahaman bersama bahwa memang pemudalah yang patut diharapkan dan diimpikan sebagai salah satu strata yang ada di dalam masyarakat untuk membawa negeri ini menuju ke arah yang lebih baik, sampai pada Indonesia Jaya Merdeka Selamanya.
Hanya saja, di samping potensi yang luar biasa tersebut, kita pun patut menyoroti tentang keadaan pemuda di era modern ini di mana ketika kemungkaran telah merajalela, kemaksiatan hadir di depan mata tanpa jeda, dan tak ketinggalan hedonisme kehidupan yang semakin terbuka. Sungguh miris melihat kenyataan yang tak dapat dielakkan tersebut. Sudah idealkah apa yang selama ini kita seru-serukan bahwa pemuda sebagai pemain utama dalam perubahan? Tentu diantara para sekian juta pemuda yang ada di Indonesia ini tidak semuanya masuk dalam kriteria yang diharapkan. Oleh karena itu, pertanyaannya adalah pemuda yang bagaimana yang patut menjadi harapan bangsa Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini adalah jawabannya:
Ø  Pemuda yang mengakui akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah Subhanahu Wata’ala
Ø  Pemuda yang memiliki akhlak mahmudah disertai ilmu yang mumpuni sesuai bidangnya
Ø  Pemuda yang tidak anti untuk menyuarakan kebenaran di tengah pusaran kebatilan
Ø  Pemuda yang memiliki integritas tinggi terhadap Islam, bangsa dan negaranya, yaitu Indonesia Jaya menuju Indonesia Raya
Ø  Pemuda yang cinta akan persaudaraan, menyebarkan kebaikan, dan mencegah daripada kemungkaran dan kemaksiatan
Demikianlah pemuda, di dalam dirinya tersimpan kekuatan yang besar dan menjadi semakin besar ketika ditempa sesuai dengan kadarnya. Langkah praktis untuk menjadi Pemuda Pemimpin Perubahan hanyalah ada tiga hal:
1) Berbekal Ilmu sebagai dasar untuk bertindak
2) Menyuarakan Perubahan agar tergugah kesadaran masyarakat; dan
3) Laksanakan dengan amal perbuatan agar menjadi teladan bagi umat.
Sungguh, tiada kejayaan bangsa ini akan didapatkan jika pemudanya tidak berpegang teguh pada prinsip yang menyadarkan dirinya darima ia berasal? Untuk apa dia tetap ada di dunia? Dan akan kemana nantinya setelah meninggalkan dunia?
Pemuda Indonesia sebagai arsitek dan pemimpin masa depan Indonesia, pemuda bukan hanya penonton yang hanya bisa bertepuk tangan. Pemudalah  yang akan mendesain masa depan negeri ini, karena masa depan negeri ini akan di isi oleh pemuda masa kini, jangan sampai pemuda mengizinkan generasi tua merusak karpet merah yang akan pemuda isi dengan penuh integritas dan cinta akan tanah air.
Pemuda harus bisa merencanakan apa yang terbaik untuk negeri di masa mendatang, bukan sekedar pengikut tanpa memiliki pendirian yang kuat. Harta dan Tahta tidak cukup untuk membayar idealisme pemuda, maka pemuda juga harus membuktikan dengan maha karya besar untuk negeri.  Oleh karena itu bagaimana manajemen komunikasi yang di lakukan oleh para da’i dalam meningkatkan pemahaman tentang ajaran islam bagi remaja/pemuda di dusun penyaong desa masbagik timur.
Manajement adalah pengunaan sumber daya organisasi untuk mencapi sasaran dan kinerja yang tinggi.
Menurut beberapa para ahli:
Manajemen menurut Ordway tead disadur oleh drs. He.rosyidi dalam buku  “ organisasi dan manajement “.
Manajement adalah proses dan kegiatan pelaksanan usaha memimpin dan menunjukan arah penyelengaraan tugas suatu organisasi di dalam mewujudkan tujuan yang telah di tetapkan.
Manajement menurut horold koontz dan Cyril o’donnel. Manajement adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.
Agama islam adalah dakwah segalanya tergantung di dalam ajaranya menurut kodratnya harus tersebar keseluruh umat manusia. Hal ini dimaksudkan agar di dalam kehidupan manusia berada dalam kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karna itu tugas dakwah adalah merupakan kewajiban bagi kaum muslimin. Baik laki-laki maupu perempuan sesuai degan kemampuan masig-masing.
Suatu agama tidak akan berkembang dengan sendirinya. oleh karna itu peneliti tertarik ingin mengetahui bagaimana manajemen komunikasi yang di lakukan oleh para da’i di dusun penyaong penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang manajemen komunikasi da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam bagi remaja khususnya dan seluruh masyarakat di dusun penyaong.
Islam sebagai salah satu agama yang besar di dunia adalah berkembang dan tersiar karna adanya dakwah.
Di dalam Al- qur’an Allah sendiri menjelaskan perintah dakwah.

Artinya : serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. ( Q. S. An- Nahl : 125 )[2]
Sebagaimana yang telah di uraikan di atas, penulis tertarik men gadakan penelitian di Dusun Penyaong Desa Masbagik Timur Kec. Masbagik Kab. Lombok Timur NTB.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui tentang bagaimana Manajemen Komunikasi Da’i Dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Islam Bagi Remaja Di Dusun Penyaong.
B.     Ruang Lingkup Masalah
Tataran penelitian ini adalah manajement komunikasi da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam bagi remaja.
Objek penelitian ini adalah dusun penyaong desa masbagik timur Kec. Masbagik Kab. Lombok Timur.
C.     Rumusan masalah
a.       Rumusan masalah umum
Bagaimanakah bentuk manajement komunikasi da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam ?
b.      Rumusan masalah khusus
Bagaimanakah bentuk manajement komunikasi da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam bagi remaja  di dusun penyaong desa masbagik timur ?
1.2. Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian yang di angkat penulis ada dua tujuan :
1.      Tujuan umum
Untuk mengetahui  bentuk manajement komunikasi da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam.
2.      Tujuan khusus
Untuk mengetahui  bentuk manajement komunikasi da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam bagi remaja di dusun penyaong.

1.3. Manfaat penelitian
Sehubungan dengan dua macam manfaat penelitian yang ingin di capai dalam masalah ini yaitu manfaat secara teoritis dan secara praktis.
a.       Manfaat teoritis
Adapun manfaat dari segi teoritis, penulis sangat beharap mudah-mudahan apa yang di hasilkan dari penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi peneliti, kepada orang banyak dan dapat menambah hasanah ilmu pengetahuan yang dapat di terapkan dalam kegiatan dakwh.

b.      Manfaat praktis
Di harapkan agar dapat menumbuhkan semangat dan kesadaran bagi masyarakat , remaja dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam.








BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2. 1. Pengertian Manajemen
2.1.1.      Pengertian
a.       Pengertian secara harfiah
Secara etimologis, kata manajemen berasal dari bahasa inggris, manajement yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, dan pengelolaan. Artinya manajemen adalah sebagai suatu proses yang di terapkan oleh individu atau kelompok dalam upaya-upaya koordinasi untuk mencapai suatu tujuan.
b.      Pengertian dalam tinjauan ilmu
Secara terminolagi terdapat banyak definisi yang di kemukakan oleh para ahli, di antaranya adalah:
“ The process of planning, organizing, leading, and controlling the work of organization members and of using all available organizational resources to reach stated organizational goals”.
(Sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengaturan terhadap para anggota organisasi serta penggunaan seluruh sumber yang ada secara tepat untuk meraih tujuan organissi yang telah di tetapkan).[3]
Ø  Menurut stoner
Stonet mendefinisikan manajemen adalah sebagai suatu proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi usaha-usaha dari anggota organisasi dan sumber-sumber organisasi lainya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah di tetapkan.
Ø  Mary parket follet
Mendefinisikan manajemen sebagai suatu seni untuk melakukan sesuatu melalui orang lain.

2.1.2.      Uraian Ringkas Fungsi-Fungsi Manajemen
Berikut paparan mengenai fungsi-fungsi manajemen secara ringkas sebagai berikut:
1.      Peramalan/Perkiraan (Forecasting)
Forecasting adalah meramalkan, memproyeksikan, atau mengadakan perkiraaan/ taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rancana yang lebih pasti dapat dilakukan.
2.      Perencanaan (Planning)
Kegiatan seorang manejer adalah menyusun rencana. Menyusun rencana, berarti memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki.
Menurut Stoner, Planning adalah proses menetapkan sasaran/tujuan dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran tadi. Proses menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi.
3.      Pengorganisasian (Organizing)
Organisasi (Organizing) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.[4]
Fungsi perngorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta menggapai tujuan perusahaan.[5]
Pengorganisasian atau Organizing berarti mdenciptakan suatu struktur dengan bagian-bagian yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan antar bagian-bagian satu sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan keseluruhan struktur tersebut.
4.      Aktual (Actuating) Menggerakkan
Mengerakkan atau actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi.
Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja denagn seidirinya atau penuh kesadaran secara brsama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kpemimpinan (leadership)
5.      Pimpinan (Leading)
Pekerjaan leading meliputi empat kegiatan yaitu: 1) Mengambil keputusan. 2) Mengadakan komunikasi agar terjadi saling pengertian antara manajer dan bawahan. 3) Memberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak. 4) Mengkoordinasi kegiatan.
6.      Pengarahan (Directing/Commanding)
Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula. Bila ditinjau dari proses, maka proses itu adalah proses pelaksanaan program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasinya.
7.      Motivasi (Motivating)
Motivating atau pemotivasian kegiatan merupakan satu dari beberapa fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, inovasi, semangat dan dorongan kepada bawahan agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang diinginkan oleh atasan.
8.      Inovasi (Inovation)
Inovasi adalah Proses atau hasil pengembangan atau pemanfaatan/mobi-lesasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem yang baru, yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial).
9.      Koordinasi (Coordinating)
Koordinating atau pengkoordinasian merupakan satu dari beberapa fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerja sama yang terarah dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu sendiri.
10.  Kendali (Controlling)
Kendali, sering juga disebut Pengawasan, Controlling atau, sering juga disebut pengendalian adalah satu diantara beberapa fungsi manajemen berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan tujuan yang telah digariskan semula.
11.  Laporan (Reporting)
Adalah suatu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pimpinan yang lebih tinggi.
12.  Staf (Staffing)
Staf merupakan suatu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga memberi daya guna maksimal kepada organisasi.[6]

2. 2. Karakteristik Da’i
2.2.1.      Pengertian Da’i
Dalam tinjauan terminologi bahwa dakwah adalah menyeru atau mengajak umat manusia baik perorangan ataupun kelompok kepada ajaran agama Islam.
Di Indonesia, para Da’i juga dikenal dengan sebutan kyai, ustadz, guru dan lain-lain. Hal ini didasarkan pada tugas dan eksistensinya sama seperti Da’i. setiap Da’i itu mempunyai kekhasan yang berbeda-beda tergantung dengan wacana keilmuan yang diperoleh, latar belakang pendidikan dan pengalaman yang berbeda. Da’i juga memiliki tugas sebagai pusat penggerak, pendorong ataupun perubah dalam suatu masyarakat.
Da’i dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu:
ü  Da’i dalam kriteria umum
Dalam pengertian ini  di tegaskan tiap-tiap orang Islam diwajibkan berdakwah “Ballighu anni walau ayat”
ü  Da’i dalam pengertian khusus
Dalam pengertian ini dikhususkan kepada (mutakhassis) dalam bidang dakwah Islam. QS Ali Imran: 104
وَلُتَكُن مِّنكم امة يَدْعُوْنَ اِلَى الخَيْرِ وَيَاءْ مُرُوْنَ بِالْمَعرُوف وَيَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَر
“Hendaklah ada kalanganmu sekelompok umat yang bertugas dalam bidang dakwah, menyeru kedalam jalan kebaikan, menyuruh makruf, melarang mungkar”.[7]

2.2.2.      Peran Da’i dalam Dakwah
Peran Da’i dalam dakwah sesungguhnya itu mampu di jadikan suri tauladan moralitas, juga di tuntut mampu menafsirkan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat. Sesuai dengan tuntutan pembangunan umat, maka Da’i pun hendaknya tidak hanya terfokus pada masalah-masalah agama semata, tapi mampu memberi jawaban dari tuntutan realita yang dihadapi masyarakat saat ini.
Umat islam pada lapisan bawah, tak sanggup menghubungkan secara tepat isi dakwah yang sering di dengar melalui dakwah bil lisan dengan realita sulitnya kehidupan sosial ekonomi sehari-hari. Untuk itu dituntut secara maksimal agar mampu melakukan dakwah bil hal ( dalam bentuk nyata ), artinya tatkala masyarakat mengharapkan keadilan dan kejujuran, maka Da’i diharapkan mampu memberi jalan keluar yang terbaik.
Kini setelah Islam memasuki usia 15 abad, dakwah seolah semakin redup di tengah gemerlapnya arus mordernisme. Kegersangan spiritual pun semakin parah melanda umat manusia. Sehingga nafsu angkara murka semakin merajalela. Kebrutalan, kesadisan, korupsi, dan lain sebagainya. Padahal sesungguhnya, esensi dakwah yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist-Hadits Nabi tak pernah mengenal redup dan luntur. Namun karena keangkuhan dan kealfaan manusialah  yang membuat ayat-ayat Al-Qur’an yang agung itu hanya menjadi retorika yang indah.
Maka dari itu peran dari seorang Da’i untuk mewujudkan keberhasilan dakwah hendaknya harus di transformasikan dengan realita kehidupan, dengan demikian, umat yang didakwahi pun akan merasakan hasilnya, (benar dan tidaknya).[8]

2.2.3.      Kualitas Da’i yang bagus
Para ulama’ membedakan kriteria da’i yang bagus itu berbeda-beda ada yang mengatakan bahwa da’i yang bagus itu harus mempunyai sifat seperti Nabi yaitu: Sidiq, Amanat, Tabliq, dan Fatonah, ada juga yang mengatakan bahwa kriteria yang bagus itu mempunyai 3 integritas: integritas diri (Sidiq, Amanat, Tabliq, dan Fatonah) integritas keilmuan (cerdas) dan integritas sosial ( mampu bermasyarakat ).
Ada juga yang mengatakan Da’i atau Da’iyah  harus memiliki kualitas yang bagus diantaranya:
1.      Memiliki sifat-sifat yang baik:
Ø  Al-Shidqu ( Benar, tidak dusta )
Ø   Al-Shabru ( sabar, Tabah )
Ø   Al-Rahmah ( rasa kasih sayang )
Ø   Tawadhu’ (merendahkan diri, tidak sombong )
Ø   Suka bergaul       
2. Menguasai berbagai ilmu khususnya ilmu Agama
3. Mampu dijadikan contoh
Ø   Berkata sopan
Ø   Mampu bekerjasama
Ø   Pema’af.[9]

2.3.1.      Agama Islam
Islam pada tata bahasanya secara terminologi
berarti “Ketundukan/kepasrahan”. 
Adapun secara etimologi atau istilah berarti:
(1) Bersaksi tidak ada sembahan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, (2) Mendirikan sholat, (3) Membayar zakat, (4) Berpuasa pada bulan Ramadhan, (5) Berhaji bagi yang mampu.
Inilah gambaran pokok atau inti dari ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah ‘alaihi al shalatu wa al salam sesuai apa yang diriwayatkan dari Beliau secara shahih oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Jika kita melihat secara menyeluruh dari kelima pokok Islam, maka didalamnya kita temukan makna ketundukan atau kepasrahan terhadap apa yang diwahyukan Allah Ta’ala kepada Sang Rasul yang kemudian Beliau sampaikan kepada seluruh umatnya sejak generasi awal hingga nanti generasi terakhir sesaat sebelum sangkakala ditiupkan yang diajarkan secara turun temurun.
Contoh paling pertama dari implementasi tentang ketundukan terhadap ajaran Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada sembahan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya.
Secara eksplisit kita dapat melihat bahwa kedua kalimat ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian pertama “Persaksian bahwa tidak ada sembahan selain Allah” dan potongan kedua adalah “Persaksian bahwa Muhammad ‘Alaihi al sholatu wa al salam adalah utusan Allah Ta’ala”.
Kedua penggal kalimat ini memiliki makna implisit, yaitu dalam menjalani kehidupan sebagai hamba, seorang muslim hendaknya hanya mengarahkan niatannya kepada Allah Ta’ala semata. Sementara bersamaan dengan itu, segala tindak-tanduk peribadatannya hendaklah mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di dalamnya ada ketundukan dan pengikutan kepada apa-apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada generasi pertama untuk kemudian diteruskan kepada generasi-generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak.
Allah Ta’ala mengutus Rasul-Nya adalah untuk memberikan pondasi dan batasan-batasan atas apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang hamba yang mengaku taat kepadaNya.
Jika menilik kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, maka kita melihat, bahwa untuk mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala kepada mereka pada umumnya tidaklah terlalu sulit. Yang mereka lakukan hanyalah mengikuti apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Itu saja. Tanpa berusaha untuk menambah-nambah ataupun mengurangi. Sebab mereka paham, bahwa cukup dengan itu saja mereka insya Allah bisa mendapatkan janji Allah kelak.
Persoalan kemudian muncul, ketika di beberapa generasi belakangan, yaitu setelah mereka kemudian mencoba memunculkan ide-ide atau ijtihad-ijtihad yang sama sekali tidak pernah dicontohkan atau bahkan diberi sinyal oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Apa yang kemudian terjadi? Akhirnya semakin banyak amalan-amalan tambahan yang dikira bisa menambah nilai penerimaan amalan tersebut di sisi Allah Ta’ala.
Contohnya adalah: mencela para sahabat, menganggap sebagian mereka merebut posisi kekuasaan sebagian yang lain, ataupun ada yang kemudian menelurkan ide bahwa Rasulullah Muhammad bukanlah nabi/rasul terakhir. Hal-hal seperti ini, kemudian berimbas kepada perubahan akan dasar-dasar pokok ajaran Islam.
Untuk itulah, dirasa sangat perlu bagi kita semua untuk memahami pola atau metode pengambilan ajaran Islam yang baik. Agar dapat paling tidak meminimalisir penyimpangan-penyimpangan dalam pemahaman maupun amalan.
Kita berusaha untuk mendudukkan persoalan perselisihan-perselisihan yang terjadi di zaman para sahabat sesuai dengan porsinya agar tidak terjebak pada sikap berlebih-lebihan. Contohnya, berlebih-lebihan dalam membela sahabat ‘Ali radhiallahu ‘anhu beserta keturunannya sampai-sampai harus mencela sahabat bahkan istri Rasulullah radhiallahu ‘anhum ajma’in. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian terjerumus dalam pengkafiran sahabat yang berseberangan dengan ‘Ali radhiallahu ‘anhu serta keluarganya.
Mereka protes ketika dikritisi tentang sikap mereka terhadap Rasulullah dan para Sahabatnya. Namun, mereka yang protes tersebut tidak sadar, bahwa jauh sebelum mereka dikritik, mereka telah terlebih dahulu mencederai diri Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.
2.3.2.      Sumber Ajaran Islam
Di kalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran Islam yang utama adalah Al-qur’an dan Al-Sunnah; sedangkan penalaran atau akal pikiran sebagai alat untuk memahami Alquran dan Al-Sunnah .
1. Alquran
Di kalangan para ulama dijumpai adanya perbedaan pendapat di sekitar pengertian Al-qur’an baik dari segi bahasa maupun istilah. Asy-Syafi’i misalnya mengatakan bahwa Al-qur’an bukan berasal dari akar kata apa pun, dan bukan pula ditulis dengan memakai kata hamzah.Lafal tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian kalamullah (Firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Sementara itu Al-Farra berpendapat bahwa lafal Al-qur’an berasal dari kata qarain jamak dari kata qarinah yang berarti kaitan, karena dilihat dari segi makna dan kandungannya ayat-ayat Al-qur’an itu satu sama lain saling berkaitan. Selanjutnya, Al-Asy’ari dan para pengikutnya mengatakan bahwa lafal Al-qur’an diambil dari akar kata qarn yang berarti menggabungkan suatu atas yang lain, karena surat-surat dan ayat-ayat Al-qur’an satu dan lainnya saling bergabung dan berkaitan.
Manna’ al-Qathhthan, secara ringkas mengutip pendapat para ulama pada umumnya yang menyatakan bahwa Al-qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, dan dinilai ibadah bagi yang membacanya. Pengertian yang demikian senada dengan yang diberikan Al-Zarqani.
2. Al-Sunnah
Kedudukan Al-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam selain didasarkan pada keterangan ayat-ayat Al-qur’an dan hadis juga didasarkan kepada pendapat kesepakatan para sahabat. Yakni seluruh sahabat sepakat untuk menetapkan tentang wajib mengikuti hadits, baik pada masa Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat.
Menurut bahasa Al-Sunnah artinya jalan hidup yang dibiasakan terkadang jalan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk. Pengertian Al-Sunnah seperti ini sejalan dengan makna hadis Nabi yang artinya : ”Barang siapa yang membuat sunnah (kebiasaan) yang terpuji, maka pahala bagi yang membuat sunnah itu dan pahala bagi orang yang mengerjakanny; dan barang siapa yang membuat sunnah yang buruk, maka dosa bagi yang membuat sunnah yang buruk itu dan dosa bagi orang yang mengerjakannya.
Sementara itu Jumhurul Ulama atau kebanyakan para ulama ahli hadis mengartikan Al-Sunnah, Al-Hadis, Al-Khabar dan Al-Atsar sama saja, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun ketetapan.
Sementara itu ulama Ushul mengartikan bahwa Al-Sunnah adalah sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad dalam bentuk ucapan, perbuatan dan persetujuan beliau yang berkaitan dengan hukum.
Sebagai sumber ajaran Islam kedua, setelah Al-qur’an, Al-Sunnah memiliki fungsi yang pada intinya sejalan dengan Al-qur’an. Keberadaan Al-Sunnah tidak dapat dilepaskan dari adanya sebagian ayat Al-qur’an :
1). Yang bersifat global (garis besar) yang memerlukan perincian.
2). Yang bersifat umum (menyeluruh) yang menghendaki pengecualian.
3).   Yang bersifat mutlak (tanpa batas) yang menghendaki pembatasan. dan ada pula
4).   Isyarat Al-qu’ran yang mengandung makna lebih dari satu (musytarak) yang menghendaki penetapan makna yang akan dipakai dari dua makna tersebut; bahkan terdapat sesuatu yang secara khusus tidak dijumpai keterangannya di dalam Al-qur’an yang selanjutnya diserahkan kepada hadis nabi.[10]
2.4.1.      Pengertian Pemuda/ Remaja
Telah kita ketahui bahwa pemuda atau generasi muda merupakan konsep-konsep yang dikaitkan dengan masalah nilai. Hal ini merupakan pengertian ideologis dan kultural dari pada pengertian ilmiah dalam masyarakat pemuda merupakan satu identitas yang potensial kedudukannya yang strategis sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya maka ibarat satu mata rantai yang terurai panjanng, posisi pemuda dalam masyarakat menempati mata rantai yang paling sentral karena berfungsi sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan berkemampuan untuk mengisi dan membina kemerdekaan. Pemuda sebagai harapan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan.
Masa muda pada umumnya dapat dipandang sebagai suatu tahap dalam pembentukan kepribadian manusia karakteristis yang menonjol dari pemuda adalah peranannya dalam masa peralihan menuju pada kedudukan yang bertanggung jawab dalam tatanan masyarakat antara lain :
a. Kemurnian idealisme
b. Keberanian dan keterbukaannya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan baru
c. Semangat pengabdiannya
d. Spontanitas dan dinamikannya
e. Inofasi dan kreatifitasnya
f. Keinginan-keinginan untuk segera mewujudkan gagasan barunya
2.4.2. Permasalahan, Potensi Generasi Muda Dan Perannya Dalam Masyarakat
2.4.2.1. Permasalahan Generasi Muda
Masalah pemuda merupakan masalah yang abadi dan selalu dialami oleh setiap generasi dalam hubungannya dengan generasi yang lebih tua. Problem itu disebabkankarena akibat dari proses pendewasaan seseorang, penyesuaian dirinya dengan situasi yang baru timbulah harapan setiap pemuda akan mempunyai masa depan yang lebih baik dari pada orang tuanya.
Masalah antar generasi merupakan salah satu kesalahan masyarakat yang dikenal sejak dulu kala.
Yang dipernasalahkan adalah nilai-nilai masyarakat. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa masalah antar generasi mencerminkan bagaimana kebudayaan masyarakat itu sendiri.
Sehubungan dengan ini para ahli sosial berpendapat bahwa masalah antar generasi kurang dan hampir tidak terdapat dimasyarakat tradisional. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa antar generasi merupakan suatu masalah modern.
Berbagai macam permasalahan generasi muda yang muncul pada saat ini antara lain:
a. Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme dan nasionalisme dikalangan masyarakat termasuk jiwa pemuda.
b. Kekurang pastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
c. Belum keseimbangannya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia, baik yang formal maupun non formal.
d. Kekurangan lapangan dan kesempatan kerja serta tinggi nya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran dikalangan generasi muda mengakibatkan berkurangnya produktifitas oleh nilai-nilai kekuasaan dan sebagainya.
e. Masih langkanya pengalaman-pengalaman yang dapat merelefansikan pendapat sikap dan tindakanya dengan kenyataan yang ada.
Dengan demikian bagaimana semua masalah itu agar dapat dipecahkan olah masyarakat merupakan cerminan kebudayaan masyarakat itu sendiri.
2.4.2.2. Potensi Generasi Muda
Potensi yang terdapat pada generasi muda yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut :
a. Idealisme dan daya kritis
Secara sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan yang ada sehingga dia dapat melihat kekurangan dalam tatanan tersebut dan secara wajar mampu mencari gagasan baru sebagai alternatif kearah perwujudan kearah tatanan yang lebih baik
b. Dinamika dan kreatifitas
Adanya idealisme pada generasi muda mnyebabkan mereka mimiliki potensi kedinamisan dan kreatifitas, yakni kemampun dan kesediaan untuk mengadakan perubahan, pembaharuan dan penyempurnaan kekurangan yang ada ataupun mengungkapkan gagasan yang baru
c. Keberanian mengambil resiko
Perubahan dan pembaharua termasuk pembangunan mengandung resiko dapat meleset terhambat atau gagal. Namun mengambil resiko itu diperlukan jika ingin memperoleh kemajuan.
d. Optimis dan kegairahan semangat
Kegagalan tidak menyebabkan generasi mudah patah semangat. Optimisme dan kegairahan semangat yang dimiliki generasi muda merupakan daya pendorong untuk mencoba maju lagi.
e. Sikap kemandirian dan disiplin murni
Generasi memiliki keinginan untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu dilengkapi kesadaran disiplin murni pada dirinya agar mereka dapat menyadari batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.
f. Terdidik
Walaupun dengan memperhitungkan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti kuantitatif maupun dalam arti kualitatif, generasi muda secara relatif lebih terpelajar karena lebih terbukanya kesempatan belajar dari generasi pendahulunya.
g. Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan
Keanekaragaman generasi muda merupakan cermin keanekaragaman masyarakat kita. Keanekaragaman tersebut dapat menjadi hambatan jika dihayati secara sempit dan eksklusif, tapi dapat merupakan potensi dinamis dan kreatif sehingga merupakan sumber yang besar untuk kemajuan bangsanya. Maka para pemuda dapat didorong untuk menampilkan potensinya yang terbaik dan diberi peran yang jelas serta bertanggung jawab dalam menuju cita-cita bangsa.
h. Patriotisme dan Nasionalisme
Pemupukan rasa kebangsaan, kecintaan dan turut memiliki bangsa dan negara dikalangan pemuda perlu ditingkatkan
                  i. Fisik kuat dan jumlah banyak
Potensi ini merupakan kenyataan sosiologis dan demografis. Dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembangunan bangsa dan negaranya yang menghendaki pengarahan tenaga dalam jumlah besar.
j. Sikap kesatria
Kemurnian idealisme, keberanian, semangat pengabdian dan pengorbanan serta rasa tanggung jawab sosial yang tinggi adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk dan dikembangkan terus menjadi sikap kesatria
k. Kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi
Para pemuda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi secara fungsional dapat dikembangkan sebagai transformator terhadap lingkungannya.[11]
a.  


               







BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
a.       Jenis Diskriptif
Bahwa dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian diskriptif. Penelitian diskriptif adalah salah satu jenis metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya.
 Penelitian Diskriptif ini juga sering disebut noneksperimen, karena pada penelitian ini peneliti tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian.[12]
b.      Pendekatan penelitian
Metode penelitian kualitatif adalah pendekatan yang temuan-temuan penelitiannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk perhitungan lainnya,
Prosedur ini menghasilkan temuan-temuan yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan beragam sarana. Sarana itu meliputi pengamatan dan wawancara, namun bisa juga mencakup dokumen, buku, kaset video, dan bahkan data yang telah dihitung untuk tujuan lain, misalnya data sensus.[13]
3.2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti sangat menentukan sekali dala memperoleh data-data yang valid dan riel, sesuai dengan apa yang di inginkan atau di harapkan dari pada tujuan peneliti. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian yakni di dusun penyaong adalah sebagai instrument yang kehadirannya sangat di butuhkan agar dapat memahami, menganalisis data-data yang di peroleh sehingga menjadi sebuah hasil penelitian yang ilmiah dan dapat di prtanggung jawabkan.
Untuk memperoleh data yang valid dan riel sebagai peneliti harus mampu berusaha menciptakan hubungan yang baik dengan masyarakat atau responden yang menjadi sumber data. Sehingga dapat memberikan informasi yang tepat dan benar.
 Di samping iu juga peneliti berusaha berprilaku yang sopan agar keberadaan/ kehadirannya di masyarakat/ lokasi penelitian dapat di terima dengan baik.
3.3. Sumber Data
Yang di maksud dengan sumber data dalam penelitian adalah orang-orang yang memberikan sumber informasi/ subyek dari mana data itu di peroleh. Jika seorang peneliti mengunakan wawancara dalam mengumpulkan data, maka sumber data di sebut sebagai responden yaitu orang-orang yang merespon/ menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik berupa pertanyaan tertulis maupun lisan.Oleh karenanya peneliti memperoleh sumber data melalui:
a.             Data Primer, yaitu data yang dapat diperoleh secara langsung dari lapangan, seperti: responden (orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti), baik pertanyaan tertulis maupun lisan.
b.            Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari bahan bacaan, seperti data tentang penduduk Dusun Penyaong Desa Masbagik Timur Kecamatan Masbagik.

3.4.Instrument Pengumpulan Data
Instrument penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Kualitas instrument akan menentukan kualitas data yang terkumpul. “Garbage tool garbage result” merupakan hubungan antara instrument dengan data. Oleh karena itulah menyusun instrument bagi kegiatan penelitian merupakan langkah penting yang harus dip aha mi betul oleh peneliti (Suharsimi Arikunto, 1995:177).[14]
Dalam penelitian penulis mengunakan beberapa tehnik pegumpulan data diantaranya sebagai berikut:
1.      Observasi
Pengumpulan data dengan observasi angsung atau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata, tanpa bantuan alat-alat lain.
2.      Wawancara (Interviu)
Yang di maksud dengan wawancara adalah peruses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab smbil bertatap muka antara si penanya (pewawancara) dengan si penjawab (responden atau informan) dengan menggunakan alat yang di namakan pedoman wawancara.
Wawancara merupapkan proses intraksi antara pewawancara dengan responden. Oleh karena itu, ada beberapa aspek wawancara di antaranya adalah karaktristik social responden maupun pewawancara, penampilan pewawancara, dan latar belakang social pewawancara yang dapat melancarkan ata penghambat komunikasi.
3.      Angket (Daftar Pertanyaan)
Alat lain untuk mengumpulkan data dalam penelitian adalah daftar pertanyaan, sering di sebut kuesioner. Kuesioner adalah rangkaian seri pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah penelitian, dan setiap pertanyaan mengandung jawaban yang mempunyai makna dalam menguji hipotesis.[15]
4.      Dokumentasi
Penjaringan data dengan metode ini, adalah peneliti mencari dan mendapatkan data-data primer dengan melalui data-data dari prasasti-prasasti, naskah-naskah kearsipan (baik dalam bentuk barang cetakan maupun rekaman), dan lain sebagainya. Dengan adanya data-data tersbut, maka peneliti akan dapat memecahkan masalah penelitian sekaligus usaha membuktikan hipotesis penelitian.[16]
3.5. Analisis Data
Setelah data terkumpul, selama melakukan penelitia perlu di analisa dengan ketelitian, keuletan kecakapan sehingga akan mendapatkan suatu kesimpulan yang obyektif dari suatu penelitian.
Tujuan dari analisa data adalah membasi penemun-penemua sehingga menjadi suatu data yang teratur dan tersusun serta lebih berarti.

3.6. Keabsahan Data
Untuk  mendapatkan data-data yang bisa di jamin kevalidannya dan sesuai dengan apa yang di inginkan/ di harapkan, maka peneliti menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Memperpanjang kehadiran peneliti di lokasipenelitian / lapangan
2.      Mengadakan konsultasi dengan pembimbing
3.      Menyiapkan segala apa yang di butuhkan dalam kegiatan penelitian
4.      Mencatat / menggunakan data-data yang sudah di peroleh.



DAFTAR PUSTAKA


1.      Drs. H.A. Hafizh Dasuki, MA, 1992. Al-qu’an dan Terjemahanya. Semarang. Departemen Agama Repoblik Indonesi.
2.      Prof. Dr. H. Muhamad Asrori, M.Pd, 2007. Penelitian Tindakan Kelas.Bandung. CV Wacana Prima.
3.      Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. 2000. Metode Penelitian Agama. Pustaka Setia Bandung.
4.      Muhammad Munir, S.Ag. 2006. Manajemen Dakwah. Surabaya. kencana.
5.      Ridwanaz, 2012, Pengertian Penelitian Deskriptif, (http:www, ridwanaz.com, di akses 20 februari 2012)
6.      Novaini Husaini Al-Mundziri, 2012,Remaja Pemuda dan Permasalahanya, (http:www.wildaznov11.blogspot.com, di akses 30 desember 2008)
7.      Tria Kusuma Dewi, 2012, Fungsi-Fungsi Manajemen, (http:www.blog.re.or, di akses 04 desember 2012 pukul 11.01 WIB)
8.      Ilmu Social Dasar, Arifin Nur, Muhammad, Drs. PUSTAKA SETIA, BANDUNG, cet. II
9.      IAD-ISD-IBD. Nur Hidayati, Ir. Mawardi, Drs. PUSTAKA SETETIA BANDUNG, cet.V
10.  Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. 2000. Metode Penelitian Agama. Pustaka Setia Bandung.


BAB IV
LAPORAN PENELITIAN

4.1.   Diskripsi Lokasi Penelitian
1. Letak Geografis
2. Keadaan Penduduk
3. Mata Pencaharian Penduduk
4. Keadaan Social Masyarakat
5. Sarana Dan Prasarana
Peranan Da’i Dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Islam Bagi  Remaja Di Dusun Penyaong Desa Masbagik Timur
4.2. Manajemen Dan Upaya Da’i Dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Islam Bagi Remaja Di Dusun Penyaong Desa Masbagik Timur
4.3. Hambatan Para Da’i Dan Solusinya
4.4. Kenakalan Remaja Dan Solusi Untuk Mengatasi

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
5.2. Saran-Saran


[1] (Anonim.http://ragab304.wordpress.com/2007/05/10/islam-akidah-syariah-dan-akhlak/. Diakses pada tanggal 16 November 2011)

[2] Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahan (Semarang, CV. Adi Grafika, 1994)


[3] M. Munir. S. Ag, M.A, Wahyu Ilaihi, S. Ag. M.A. Manajemen Dakwah
                                                                               
[7] http://pengertianpengertian.blogspot.com/2011/12/pengertian-da’i

[8] http://pengertianpengertian.blogspot.com/2011/12/pengertian-da’i

[10] http://www.markazislambogor.com/berita-memahami-ajaran-islam

[11] http://wildaznov11.blogspot.com/2008/12/remaja-pemuda-dan-permasalahannya

[12] http://ridwanaz.com/umum/bahasa/pengertian-penelitian-deskriptif/

[13] (http://File.Upi.Edu/Direktori/Fip/Jur._Administrasi_Pendidikan/197203211999031-Asep_Suryana/Copy_%285%29_Of_Langkah_Penelitian_Kualitatif.
[14] Dra. Nurul Zuriah, M. Si, Metodelogi Penelitian Social Dan Pendidikan.

[15] Dr. H. Dadang Kahmad. M.Si, Metode Penelitian Agama
[16] Supardi Petodologi Penelitian Ekonomi Bisnis; Yogyakarta: UII Prees, 2005

1 komentar:

  1. Wynn Hotel and Casino - Mapyro
    Find Wynn Hotel and Casino, Las 군산 출장샵 Vegas (Mapyro). Real-time driving directions to 시흥 출장안마 Wynn 서산 출장안마 Las 오산 출장안마 Vegas, 89109 US, for 사천 출장샵 Wynn Hotel and Casino,

    BalasHapus