Sabtu, 02 Februari 2013



Artikel
ETOS KERJA ISLAM



O
L
E
H

ALWAN ZAMRONI




JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI PANCOR





ETOS KERJA ISLAM

By:  Alwan Zamroni
Manusia tidak akan pernah lepas dari kebutuhan hidupnya, agar kebutuhan hidupnya dapat tercukupi, tentu ia harus berusaha dan berikhtiar dengan bekerja keras, melalui profesinya masing- masing. bagi umat islam, dalam berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, telah di jelaskan oleh Rasulullah Saw, Tentang beberapa hal yang berkaitan tentang hal tersebut, di antaranya tentang  etos kerja untuk mencapai puncak kesuksesan.
Karena sukses adalah pilihan, semua orang menginginkan kesuksesan, baik sukses di dunia maupun lebih-lebih sukses di akhirat. Tapi Kesuksesan yang di inginkan tidak semudah membayangkan membalik telapak tangan, begitu kita membalikkan telapak tangan kita sudah menjadi sukses, tidak…?, tapi harus melalui proses-proses tertentu untuk menjadi orang sukses. Salah satu prosesnya adalah kita mau bekerja.
Manusia adalah mahluk yang paling mulia di antara mahluk Tuhan yang lainya. Manusialah yang berkesanggupan untuk memikul amanah dari Tuhan, di pundaknya terdapat tugas-tugas mulia, kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan dengan baik, terutama kewajiban kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya atau keluarganya baik tanggung jawab dalam masalah pendiddikan maupun memberi nafkah sandang, pangan, dan papan, sesuai dengan kesanggupan dan kemampuannya.
Untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut manusia harus berusaha dan berihktiar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya menurut kemampuan yang ada. Dan sebagai orang yang beriman ihktiar itu harus di sertai dengan tawakal kepada Allah yang maha kuasa, dengan penuh keikhlasan dan kerelaan mengemban tugas mulia, untuk modal beribadah kepada Allah.
Bekerja dan berusaha adalah sesuatu yang sangat mulia, bekerja apa saja asal dengan jalan yang benar dan halal disertai dengan tidak mengabaikan kewajibana kepada Allah atau tidak melupaka kepentingan akhirat. Sebab tidak sedikit orang yanng bekerja mencari kejayaan duniawi tetapi ia melupakan kepentinga dan keselamatan akhirat. Karena sibuk bekerja ia rela meninggalkan kewajiban kepada Tuhannya. Padahal sesungguhnya yang harus lebih diutamakan adalah kepentingan kebahagiaan akhirat yang bersipat abadi.
Bekerja mencari nafkah yang didasari dengan nilai baik merupakan amal yang mulia sebagaiman yang dilakukan para nabi. Rasulullah adalah termasuk orang yang giat bekerja, ini terbukti bahwa beliau sebelum di angkat menjadi rasul, pernah bekerja sebagai pengembala kambing milik pamanya dan pernah bekerja menjadi marketing dagangan milik sayidah khadijah.
Kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non-materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniawian atau keakhiratan. Kamus besar bahasa Indonesia susunan WJS Poerdarminta mengemukakan bahwa kerja adalah perbuatan melakukan sesuatu. Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah.
KH. Toto Tasmara mendefinisikan makan dan bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya sungguh-sungguh dengan mengerahkan seluruh asset dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik atau dengan kata lain dapat juga dikatakan bahwa dengan bekerja manusia memanusiakan dirinya.
Lebih lanjut dikatakan bekerja adalah aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan di dalam mencapai tujuannya tersebut dia berupaya dengan penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT.
Di dalam kaitan ini, Al-Qur’an banyak membicarakan tentang aqidah dan keimanan yang diikuti oleh ayat-ayat tentang kerja, pada bagian lain ayat tentang kerja tersebut dikaitkan dengan masalah kemaslahatan, terkadang dikaitkan juga dengan hukuman dan pahala di dunia dan di akhirat.
Dari Rifa’ah Ibnu Rafi’ r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya: Pekerjaan apakah yang paling baik?. Beliau bersabda: “Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih”. (HR Al-Bazzar dan dishahihkan oleh al-Hakim)
Dari hadist di atas dapat kita lihat bahwa Islam sangat menghargai kerja keras, kreatifitas maupun inovasi yang dihasilkan melalui tangan seseorang dalam melakukan pekerjaan. Islam juga mengharuskan setiap pekerjaan dilakukan secara mabrur, yakni dilakukan dengan kejujuran, kejelasan dan sesuai dengan syariat.
Al-Qur’an menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah, dan menempuh jalan menuju ridha-Nya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain.
Dengan tertanamnya kesadaran ini, seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. Semboyannya adalah “tiada waktu tanpa kerja, tiada waktu tanpa amal.’  Adapun agar nilai ibadahnya tidak luntur, maka perangkat kualitas etik kerja yang Islami harus diperhatikan.
Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati: Ash Sholah (baik dan bermanfaat) Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132),  Al Ihsan (Melakukan yang terbaik atau lebih baik lagi),  Al Mujahadah (Kerja keras dan optimal) Mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum ‘taskhir’, yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33).
Bermujahadah atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159, Hud: 133), Mencermati Nilai Waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar