BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Permasalahan
A. Latar
Belakang
Dewasa ini, banyak sekali
permasalahan-permasalahan fundamental
yang terjadi dalam praktek ibadah seorang muslim. Salah satu permasalahan fundamental
yang kian menjamur adalah menyangkut praktek dasar ajaran Islam.
Dasar ajaran Islam yang terdiri dari
aqidah, syari’ah,
dan akhlak sering sekali dilupakan keterkaitannya. Contohnya: seseorang melaksanakan shalat, berarti dia
melakukan syari’ah.
Tetapi shalat itu dilakukannya untuk membuat kagum orang-orang di
sekitarnya, berarti dia tidak melaksanakan aqidah. Karena
shalat itu dilakukannya bukan
karena Allah SWT, maka shalat itu tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri ataupun
orang lain.
Alhasil, dia tidak
mendapatkan manfaat pada akhlaknya. Itulah
yang menjadikan suatu perbuatan yang seharusnya mendapat ganjaran pahala,
tapi malah menjadi suatu kesia-siaan karena tidak dilakukan
semata-mata karena Allah[1].
Tentunya sebagai
Da’i seyogyanya memberikan semangat agar lebih meningkatkan tentang pemahaman
ajaran islam bagi remaja/pemuda di dusun penyaong desa masbagik timur, Karena kata
pepatah “pemuda masa kini adalah pemimpin masa depan”. Diskursus mengenai peran pemuda dalam
membangun sebuah negara tidak akan pernah dikenal habisnya. Tampak sudah
mendarah daging dalam segala bentuk perjuangan pemuda di manapun ia berada.
Ketika pemuda ia berkarya, berjuang dan berkorban untuk negara, dan ketika ia
semakin matang dan dewasa, negara memberikan kesempatan baginya untuk
mengabdikan diri sebagai “pelayan negara”.
Tak pelak, gairah perjuangan
pemuda selalu hidup dan menghidupkan romantika perjuangan dan juga perubahan di
segala penjuru dunia. Pemuda lah yang menggagas perubahan, mendorong
kebuntuan, dan menemukan sebuah solusi atas tantangan negara bahkan dunia. Kata
“pemuda” akan membuat orang berpikir tentang energi yang berlebih, semangat
yang membara, kekuatan yang tiada habisnya, daya kreasi yang tak pernah
terhenti, dan generasi untuk kepemimpinan negara di masa depan.
Pemuda memiliki semangat
pergerakan yang membara dalam jiwa. Hal inilah yang sebenarnya menjadi
salah satu alasan mengapa pemuda memiliki peran yang penting dalam masyarakat. Karena
semangat pergerakan mereka yang jika dilaksanakan dalam rute yang positif akan
menciptakan perubahan-perubahan, serta pengaruh dalam masyarakat, sehingga
tercipta pula tatanan yang baik. Peran pemuda itu sendiri dapat sebagai subjek
penggerak perubahan, pencipta ide kreatif, sekaligus objek yang akan menjadi
contoh nyata dalam perubahan tersebut.
Sejarah mencatat ini dengan sangat baik, bagaimana pemuda tangguh bernama
Christopher Colombus menembus samudra atlantik dan menemukan benua Amerika yang
kini bahkan menjadi pemimpin peradaban dunia. Atau bagaimana seorang Aung Sang
Suu Kyi, seorang pejuang demokrasi di Myanmar, berjuang dengan penuh kesabaran,
tak mengenal kata “menyerah atau berhenti” dalam memperjuangkan hak-hak bagi
rakyat Myanmar yang ia cintai.
Nelson Mandela dari Afrika Selatan juga memberikan sebuah catatan sejarah
yang sangat mengangumkan, tokoh anti-apartheid ini rela meninggalkan kehidupan
normalnya dan lebih memilih untuk me-wakafkan dirinya untuk bangsanya yang
terjajah oleh orang kulit putih. Dan tentunya kita semua sama-sama mengenal
Ir.Soekarno, seorang yang lebih memilih untuk berkorban untuk Indonesia,
bermimpi akan menjadi Presiden Indonesia, meski saat itu “Republik bernama
Indonesia” belumlah lahir.
Mendegar kata pemuda saja, pasti hal pertama
yang terlintas di kepala kita adalah tentang semangat, enerjik, dan juga
idealisme. Ya, memang sederetan kata itulah yang kurang lebih menggambarkan betapa
hebatnya kobaran perubahan yang diusung oleh kelompok pemuda ini. Kita ketahui bersama
juga bahwa pemuda merupakan tokoh “pertengahan” antara anak-anak dan orang tua.
Dengan peranannya yang cukup strategis tersebut, seorang pemuda mampu
menyuarakan perbaikan secara lebih kuat dan tegas. Demikianlah adanya, potensi
pemuda sungguh tak diragukan lagi keshahihannya.
Dari paparan awal di atas, sudah jelas dapat
kita tarik pemahaman bersama bahwa memang pemudalah yang patut diharapkan dan
diimpikan sebagai salah satu strata yang ada di dalam masyarakat untuk membawa
negeri ini menuju ke arah yang lebih baik, sampai pada Indonesia Jaya Merdeka
Selamanya.
Hanya saja, di samping potensi yang luar biasa
tersebut, kita pun patut menyoroti tentang keadaan pemuda di era modern ini di
mana ketika kemungkaran telah merajalela, kemaksiatan hadir di depan mata tanpa
jeda, dan tak ketinggalan hedonisme kehidupan yang semakin terbuka. Sungguh
miris melihat kenyataan yang tak dapat dielakkan tersebut. Sudah idealkah apa
yang selama ini kita seru-serukan bahwa pemuda sebagai pemain utama dalam
perubahan? Tentu diantara para sekian juta pemuda yang ada di Indonesia ini
tidak semuanya masuk dalam kriteria yang diharapkan. Oleh karena itu,
pertanyaannya adalah pemuda yang bagaimana yang patut menjadi harapan bangsa
Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini adalah jawabannya:
Ø Pemuda yang mengakui akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah
Subhanahu Wata’ala
Ø Pemuda yang memiliki akhlak mahmudah disertai ilmu yang mumpuni
sesuai bidangnya
Ø Pemuda yang tidak anti untuk menyuarakan kebenaran di tengah
pusaran kebatilan
Ø Pemuda yang memiliki integritas tinggi terhadap Islam, bangsa dan
negaranya, yaitu Indonesia Jaya menuju Indonesia Raya
Ø Pemuda yang cinta akan persaudaraan, menyebarkan kebaikan, dan
mencegah daripada kemungkaran dan kemaksiatan
Demikianlah pemuda, di dalam dirinya tersimpan
kekuatan yang besar dan menjadi semakin besar ketika ditempa sesuai dengan
kadarnya. Langkah praktis untuk menjadi Pemuda Pemimpin Perubahan hanyalah ada
tiga hal:
1) Berbekal Ilmu sebagai dasar untuk bertindak
2) Menyuarakan Perubahan agar tergugah
kesadaran masyarakat; dan
3) Laksanakan dengan amal perbuatan agar
menjadi teladan bagi umat.
Sungguh, tiada kejayaan bangsa ini akan
didapatkan jika pemudanya tidak berpegang teguh pada prinsip yang menyadarkan dirinya
darima ia berasal? Untuk apa dia tetap ada di dunia? Dan akan kemana nantinya
setelah meninggalkan dunia?
Pemuda Indonesia sebagai arsitek dan pemimpin masa depan Indonesia,
pemuda bukan hanya penonton yang hanya bisa bertepuk tangan. Pemudalah
yang akan mendesain masa depan negeri ini, karena masa depan negeri ini akan di
isi oleh pemuda masa kini, jangan sampai pemuda mengizinkan generasi tua
merusak karpet merah yang akan pemuda isi dengan penuh integritas dan cinta
akan tanah air.
Pemuda harus bisa merencanakan apa yang terbaik untuk negeri di masa
mendatang, bukan sekedar pengikut tanpa memiliki pendirian yang kuat. Harta dan
Tahta tidak cukup untuk membayar idealisme pemuda, maka pemuda juga harus
membuktikan dengan maha karya besar untuk negeri. Oleh
karena itu bagaimana manajemen komunikasi yang di lakukan oleh para da’i dalam
meningkatkan pemahaman tentang ajaran islam bagi remaja/pemuda di dusun
penyaong desa masbagik timur.
Manajement
adalah pengunaan sumber daya organisasi untuk mencapi sasaran dan kinerja yang
tinggi.
Menurut
beberapa para ahli:
Manajemen menurut
Ordway tead disadur oleh drs. He.rosyidi dalam buku “ organisasi dan manajement “.
Manajement
adalah proses dan kegiatan pelaksanan usaha memimpin dan menunjukan arah
penyelengaraan tugas suatu organisasi di dalam mewujudkan tujuan yang telah di
tetapkan.
Manajement menurut horold koontz dan Cyril o’donnel. Manajement
adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.
Agama
islam adalah dakwah segalanya tergantung di dalam ajaranya menurut kodratnya
harus tersebar keseluruh umat manusia. Hal ini dimaksudkan agar di dalam
kehidupan manusia berada dalam kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Oleh
karna itu tugas dakwah adalah merupakan kewajiban bagi kaum muslimin. Baik
laki-laki maupu perempuan sesuai degan kemampuan masig-masing.
Suatu
agama tidak akan berkembang dengan sendirinya. oleh karna itu peneliti tertarik
ingin mengetahui bagaimana manajemen komunikasi yang di lakukan oleh para da’i
di dusun penyaong penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang manajemen
komunikasi da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam bagi remaja khususnya
dan seluruh masyarakat di dusun penyaong.
Islam
sebagai salah satu agama yang besar di dunia adalah berkembang dan tersiar
karna adanya dakwah.
Di
dalam Al- qur’an Allah sendiri menjelaskan perintah dakwah.
Artinya :
serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. ( Q. S. An- Nahl : 125 )[2]
Sebagaimana yang telah di uraikan di atas, penulis tertarik men gadakan
penelitian di Dusun Penyaong Desa Masbagik Timur Kec. Masbagik Kab. Lombok
Timur NTB.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui tentang bagaimana Manajemen
Komunikasi Da’i Dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Islam Bagi Remaja Di Dusun
Penyaong.
B. Ruang
Lingkup Masalah
Tataran penelitian ini adalah manajement
komunikasi da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam bagi remaja.
Objek penelitian ini adalah dusun
penyaong desa masbagik timur Kec. Masbagik Kab. Lombok Timur.
C. Rumusan
masalah
a. Rumusan
masalah umum
Bagaimanakah
bentuk manajement komunikasi da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam ?
b. Rumusan
masalah khusus
Bagaimanakah bentuk
manajement komunikasi da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam bagi
remaja di dusun penyaong desa masbagik
timur ?
1.2. Tujuan penelitian
Adapun
tujuan penelitian yang di angkat penulis ada dua tujuan :
1. Tujuan
umum
Untuk
mengetahui bentuk manajement komunikasi
da’i dalam meningkatkan pemahaman ajaran islam.
2. Tujuan
khusus
Untuk mengetahui bentuk manajement komunikasi da’i dalam
meningkatkan pemahaman ajaran islam bagi remaja di dusun penyaong.
1.3. Manfaat penelitian
Sehubungan dengan dua macam manfaat
penelitian yang ingin di capai dalam masalah ini yaitu manfaat secara teoritis
dan secara praktis.
a. Manfaat
teoritis
Adapun manfaat dari segi teoritis,
penulis sangat beharap mudah-mudahan apa yang di hasilkan dari penelitian ini
dapat memberikan manfaat bagi peneliti, kepada orang banyak dan dapat menambah
hasanah ilmu pengetahuan yang dapat di terapkan dalam kegiatan dakwh.
b. Manfaat
praktis
Di harapkan agar dapat menumbuhkan
semangat dan kesadaran bagi masyarakat , remaja dalam meningkatkan pemahaman
ajaran islam.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2. 1. Pengertian Manajemen
2.1.1.
Pengertian
a. Pengertian
secara harfiah
Secara
etimologis, kata manajemen berasal dari bahasa inggris, manajement yang berarti
ketatalaksanaan, tata pimpinan, dan pengelolaan. Artinya manajemen adalah
sebagai suatu proses yang di terapkan oleh individu atau kelompok dalam
upaya-upaya koordinasi untuk mencapai suatu tujuan.
b. Pengertian
dalam tinjauan ilmu
Secara
terminolagi terdapat banyak definisi yang di kemukakan oleh para ahli, di
antaranya adalah:
“ The process of
planning, organizing, leading, and controlling the work of organization members
and of using all available organizational resources to reach stated
organizational goals”.
(Sebuah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengaturan terhadap para anggota organisasi
serta penggunaan seluruh sumber yang ada secara tepat untuk meraih tujuan
organissi yang telah di tetapkan).[3]
Ø Menurut
stoner
Stonet mendefinisikan
manajemen adalah sebagai suatu proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin
dan mengawasi usaha-usaha dari anggota organisasi dan sumber-sumber organisasi
lainya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah di tetapkan.
Ø Mary
parket follet
Mendefinisikan
manajemen sebagai suatu seni untuk melakukan sesuatu melalui orang lain.
2.1.2. Uraian
Ringkas Fungsi-Fungsi Manajemen
Berikut
paparan mengenai fungsi-fungsi manajemen secara ringkas sebagai berikut:
1. Peramalan/Perkiraan
(Forecasting)
Forecasting
adalah meramalkan, memproyeksikan, atau mengadakan perkiraaan/ taksiran
terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rancana yang
lebih pasti dapat dilakukan.
2. Perencanaan
(Planning)
Kegiatan
seorang manejer adalah menyusun rencana. Menyusun rencana, berarti memikirkan
apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki.
Menurut
Stoner, Planning adalah proses menetapkan sasaran/tujuan dan tindakan yang
perlu untuk mencapai sasaran tadi. Proses menyangkut upaya yang dilakukan untuk
mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi
dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi.
3.
Pengorganisasian (Organizing)
Organisasi
(Organizing) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang
terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.[4]
Fungsi
perngorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan
sumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang
telah ditetapkan serta menggapai tujuan perusahaan.[5]
Pengorganisasian
atau Organizing berarti mdenciptakan suatu struktur dengan bagian-bagian yang
terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan antar bagian-bagian satu sama
lain dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan keseluruhan struktur tersebut.
4.
Aktual (Actuating) Menggerakkan
Mengerakkan
atau actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota
kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial
dan usaha-usaha organisasi.
Jadi
actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja denagn
seidirinya atau penuh kesadaran secara brsama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki
secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kpemimpinan (leadership)
5. Pimpinan
(Leading)
Pekerjaan
leading meliputi empat kegiatan yaitu: 1) Mengambil keputusan. 2) Mengadakan
komunikasi agar terjadi saling pengertian antara manajer dan bawahan. 3)
Memberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka
bertindak. 4) Mengkoordinasi kegiatan.
6.
Pengarahan (Directing/Commanding)
Directing
atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi
bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam
melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan
benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula. Bila ditinjau
dari proses, maka proses itu adalah proses pelaksanaan program agar dapat
dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasinya.
7.
Motivasi (Motivating)
Motivating
atau pemotivasian kegiatan merupakan satu dari beberapa fungsi manajemen berupa
pemberian inspirasi, inovasi, semangat dan dorongan kepada bawahan agar bawahan
melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang diinginkan oleh atasan.
8.
Inovasi (Inovation)
Inovasi
adalah Proses atau hasil pengembangan atau pemanfaatan/mobi-lesasi pengetahuan,
keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk
menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau
sistem yang baru, yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan
(terutama ekonomi dan sosial).
9.
Koordinasi (Coordinating)
Koordinating
atau pengkoordinasian merupakan satu dari beberapa fungsi manajemen untuk
melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan,
kekosongan kegiatan dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan
pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerja sama yang terarah dalam upaya
mencapai tujuan organisasi.
Koordinasi
adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan
pekerjaan yang cocok dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu
dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu
sendiri.
10.
Kendali (Controlling)
Kendali, sering juga disebut Pengawasan,
Controlling atau, sering juga disebut pengendalian adalah satu diantara
beberapa fungsi manajemen berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan
koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar
dengan tujuan yang telah digariskan semula.
11.
Laporan (Reporting)
Adalah
suatu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau
pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan
fungsi-fungsi kepada pimpinan yang lebih tinggi.
12.
Staf (Staffing)
Staf
merupakan suatu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu
organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan
usaha agar setiap tenaga memberi daya guna maksimal kepada organisasi.[6]
2. 2. Karakteristik Da’i
2.2.1. Pengertian Da’i
Dalam tinjauan terminologi bahwa dakwah adalah menyeru atau
mengajak umat manusia baik perorangan ataupun kelompok kepada ajaran agama
Islam.
Di Indonesia,
para Da’i juga dikenal dengan sebutan kyai, ustadz, guru dan lain-lain. Hal ini
didasarkan pada tugas dan eksistensinya sama seperti Da’i. setiap Da’i itu
mempunyai kekhasan yang berbeda-beda tergantung dengan wacana keilmuan yang
diperoleh, latar belakang pendidikan dan pengalaman yang berbeda. Da’i juga
memiliki tugas sebagai pusat penggerak, pendorong ataupun perubah dalam suatu
masyarakat.
Da’i
dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu:
ü Da’i dalam kriteria umum
Dalam
pengertian ini di tegaskan tiap-tiap
orang Islam diwajibkan berdakwah “Ballighu anni walau ayat”
ü Da’i dalam pengertian khusus
Dalam
pengertian ini dikhususkan kepada (mutakhassis) dalam bidang dakwah
Islam. QS Ali Imran: 104
وَلُتَكُن مِّنكم امة يَدْعُوْنَ
اِلَى الخَيْرِ وَيَاءْ مُرُوْنَ بِالْمَعرُوف وَيَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَر
“Hendaklah
ada kalanganmu sekelompok umat yang bertugas dalam bidang dakwah, menyeru kedalam
jalan kebaikan, menyuruh makruf, melarang mungkar”.[7]
2.2.2. Peran Da’i dalam Dakwah
Peran Da’i dalam dakwah sesungguhnya itu mampu di jadikan
suri tauladan moralitas, juga di tuntut mampu menafsirkan pesan-pesan dakwah
kepada masyarakat. Sesuai dengan tuntutan pembangunan umat, maka Da’i pun
hendaknya tidak hanya terfokus pada masalah-masalah agama semata, tapi mampu
memberi jawaban dari tuntutan realita yang dihadapi masyarakat saat ini.
Umat islam pada lapisan bawah, tak sanggup menghubungkan
secara tepat isi dakwah yang sering di dengar melalui dakwah bil lisan
dengan realita sulitnya kehidupan sosial ekonomi sehari-hari. Untuk itu
dituntut secara maksimal agar mampu melakukan dakwah bil hal ( dalam
bentuk nyata ), artinya tatkala masyarakat mengharapkan keadilan dan kejujuran,
maka Da’i diharapkan mampu memberi jalan keluar yang terbaik.
Kini setelah Islam memasuki usia 15 abad, dakwah seolah semakin
redup di tengah gemerlapnya arus mordernisme. Kegersangan spiritual pun semakin
parah melanda umat manusia. Sehingga nafsu angkara murka semakin merajalela.
Kebrutalan, kesadisan, korupsi, dan lain sebagainya. Padahal sesungguhnya,
esensi dakwah yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist-Hadits Nabi
tak pernah mengenal redup dan luntur. Namun karena keangkuhan dan kealfaan
manusialah yang membuat ayat-ayat
Al-Qur’an yang agung itu hanya menjadi retorika yang indah.
Maka dari itu peran dari seorang Da’i untuk mewujudkan keberhasilan
dakwah hendaknya harus di transformasikan dengan realita kehidupan, dengan
demikian, umat yang didakwahi pun akan merasakan hasilnya, (benar dan
tidaknya).[8]
2.2.3. Kualitas Da’i yang bagus
Para ulama’ membedakan kriteria da’i yang bagus itu
berbeda-beda ada yang mengatakan bahwa da’i yang bagus itu harus mempunyai
sifat seperti Nabi yaitu: Sidiq, Amanat, Tabliq, dan Fatonah, ada juga
yang mengatakan bahwa kriteria yang bagus itu mempunyai 3 integritas:
integritas diri (Sidiq, Amanat, Tabliq, dan Fatonah) integritas keilmuan
(cerdas) dan integritas sosial ( mampu bermasyarakat ).
Ada juga yang mengatakan Da’i atau Da’iyah harus memiliki kualitas yang bagus
diantaranya:
1. Memiliki sifat-sifat yang baik:
Ø Al-Shidqu ( Benar, tidak dusta )
Ø Al-Shabru ( sabar, Tabah )
Ø Al-Rahmah ( rasa kasih sayang )
Ø Tawadhu’ (merendahkan diri, tidak
sombong )
Ø Suka bergaul
2. Menguasai berbagai ilmu khususnya ilmu Agama
3. Mampu dijadikan contoh
Ø Berkata sopan
Ø Mampu bekerjasama
2.3.1. Agama Islam
Islam pada tata bahasanya secara terminologi
berarti “Ketundukan/kepasrahan”.
Adapun secara etimologi atau istilah berarti:
(1) Bersaksi tidak ada
sembahan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, (2) Mendirikan sholat, (3)
Membayar zakat, (4) Berpuasa pada bulan Ramadhan, (5) Berhaji bagi yang mampu.
Inilah
gambaran pokok atau inti dari ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah
‘alaihi al shalatu wa al salam sesuai apa yang diriwayatkan dari Beliau secara
shahih oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Jika
kita melihat secara menyeluruh dari kelima pokok Islam, maka didalamnya kita
temukan makna ketundukan atau kepasrahan terhadap apa yang diwahyukan Allah
Ta’ala kepada Sang Rasul yang kemudian Beliau sampaikan kepada seluruh umatnya
sejak generasi awal hingga nanti generasi terakhir sesaat sebelum sangkakala
ditiupkan yang diajarkan secara turun temurun.
Contoh
paling pertama dari implementasi tentang ketundukan terhadap ajaran Islam
adalah bersaksi bahwa tidak ada sembahan selain Allah dan Muhammad adalah
Rasul-Nya.
Secara eksplisit kita dapat melihat bahwa kedua kalimat ini
terdiri dari dua bagian, yaitu bagian pertama “Persaksian bahwa tidak ada
sembahan selain Allah” dan potongan kedua adalah “Persaksian bahwa
Muhammad ‘Alaihi al sholatu wa al salam adalah utusan Allah Ta’ala”.
Kedua penggal kalimat ini memiliki makna implisit, yaitu dalam
menjalani kehidupan sebagai hamba, seorang muslim hendaknya hanya mengarahkan
niatannya kepada Allah Ta’ala semata. Sementara bersamaan dengan itu, segala
tindak-tanduk peribadatannya hendaklah mengikuti apa yang telah dicontohkan
oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di
dalamnya ada ketundukan dan pengikutan kepada apa-apa yang telah diajarkan oleh
Rasulullah kepada generasi pertama untuk kemudian diteruskan kepada
generasi-generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak.
Allah
Ta’ala mengutus Rasul-Nya adalah untuk memberikan pondasi dan batasan-batasan
atas apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang hamba yang
mengaku taat kepadaNya.
Jika
menilik kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, maka kita melihat, bahwa
untuk mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala kepada mereka pada
umumnya tidaklah terlalu sulit. Yang mereka lakukan hanyalah mengikuti apa-apa
yang dicontohkan oleh Rasulullah. Itu saja. Tanpa berusaha untuk
menambah-nambah ataupun mengurangi. Sebab mereka paham, bahwa cukup dengan itu
saja mereka insya Allah bisa mendapatkan janji Allah kelak.
Persoalan
kemudian muncul, ketika di beberapa generasi belakangan, yaitu setelah mereka
kemudian mencoba memunculkan ide-ide atau ijtihad-ijtihad yang sama sekali
tidak pernah dicontohkan atau bahkan diberi sinyal oleh Rasulullah dan para
sahabatnya. Apa yang kemudian terjadi? Akhirnya semakin banyak amalan-amalan
tambahan yang dikira bisa menambah nilai penerimaan amalan tersebut di sisi
Allah Ta’ala.
Contohnya
adalah: mencela para sahabat, menganggap sebagian mereka merebut posisi
kekuasaan sebagian yang lain, ataupun ada yang kemudian menelurkan ide bahwa
Rasulullah Muhammad bukanlah nabi/rasul terakhir. Hal-hal seperti ini, kemudian
berimbas kepada perubahan akan dasar-dasar pokok ajaran Islam.
Untuk
itulah, dirasa sangat perlu bagi kita semua untuk memahami pola atau metode
pengambilan ajaran Islam yang baik. Agar dapat paling tidak meminimalisir penyimpangan-penyimpangan
dalam pemahaman maupun amalan.
Kita
berusaha untuk mendudukkan persoalan perselisihan-perselisihan yang terjadi di
zaman para sahabat sesuai dengan porsinya agar tidak terjebak pada sikap
berlebih-lebihan. Contohnya, berlebih-lebihan dalam membela sahabat ‘Ali
radhiallahu ‘anhu beserta keturunannya sampai-sampai harus mencela sahabat
bahkan istri Rasulullah radhiallahu ‘anhum ajma’in. Bahkan, tidak sedikit yang
kemudian terjerumus dalam pengkafiran sahabat yang berseberangan dengan ‘Ali
radhiallahu ‘anhu serta keluarganya.
Mereka
protes ketika dikritisi tentang sikap mereka terhadap Rasulullah dan para
Sahabatnya. Namun, mereka yang protes tersebut tidak sadar, bahwa jauh sebelum
mereka dikritik, mereka telah terlebih dahulu mencederai diri Rasulullah,
keluarga, dan para sahabatnya.
2.3.2. Sumber Ajaran Islam
Di kalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber
ajaran Islam yang utama adalah Al-qur’an dan Al-Sunnah; sedangkan penalaran
atau akal pikiran sebagai alat untuk memahami Alquran dan Al-Sunnah .
1. Alquran
Di kalangan para ulama dijumpai adanya perbedaan pendapat
di sekitar pengertian Al-qur’an baik dari segi bahasa maupun istilah.
Asy-Syafi’i misalnya mengatakan bahwa Al-qur’an bukan berasal dari akar kata
apa pun, dan bukan pula ditulis dengan memakai kata hamzah.Lafal tersebut sudah
lazim digunakan dalam pengertian kalamullah (Firman Allah) yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad Saw. Sementara itu Al-Farra berpendapat bahwa lafal Al-qur’an
berasal dari kata qarain jamak
dari kata qarinah yang berarti kaitan, karena dilihat
dari segi makna dan kandungannya ayat-ayat Al-qur’an itu satu sama lain saling
berkaitan. Selanjutnya, Al-Asy’ari dan para pengikutnya mengatakan bahwa lafal
Al-qur’an diambil dari akar kata qarn yang berarti menggabungkan suatu atas
yang lain, karena surat-surat dan ayat-ayat Al-qur’an satu dan lainnya saling
bergabung dan berkaitan.
Manna’ al-Qathhthan, secara ringkas mengutip pendapat para ulama pada
umumnya yang menyatakan bahwa Al-qur’an adalah firman Allah yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad Saw, dan dinilai ibadah bagi yang membacanya. Pengertian
yang demikian senada dengan yang diberikan Al-Zarqani.
2. Al-Sunnah
Kedudukan
Al-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam selain didasarkan pada keterangan
ayat-ayat Al-qur’an dan hadis juga didasarkan kepada pendapat kesepakatan para
sahabat. Yakni seluruh sahabat sepakat untuk menetapkan tentang wajib mengikuti
hadits, baik pada masa Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat.
Menurut bahasa Al-Sunnah artinya jalan hidup yang
dibiasakan terkadang jalan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk.
Pengertian Al-Sunnah seperti ini sejalan dengan makna hadis Nabi yang artinya :
”Barang siapa yang membuat sunnah (kebiasaan) yang terpuji, maka pahala bagi
yang membuat sunnah itu dan pahala bagi orang yang mengerjakanny; dan barang
siapa yang membuat sunnah yang buruk, maka dosa bagi yang membuat sunnah yang
buruk itu dan dosa bagi orang yang mengerjakannya.
Sementara itu Jumhurul
Ulama atau kebanyakan para
ulama ahli hadis mengartikan Al-Sunnah, Al-Hadis, Al-Khabar dan Al-Atsar sama
saja, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, baik
dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun ketetapan.
Sementara itu ulama Ushul mengartikan bahwa Al-Sunnah adalah
sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad dalam bentuk ucapan, perbuatan dan
persetujuan beliau yang berkaitan dengan hukum.
Sebagai sumber ajaran Islam kedua, setelah Al-qur’an,
Al-Sunnah memiliki fungsi yang pada intinya sejalan dengan Al-qur’an.
Keberadaan Al-Sunnah tidak dapat dilepaskan dari adanya sebagian ayat Al-qur’an
:
1). Yang bersifat global (garis besar) yang
memerlukan perincian.
2). Yang bersifat umum (menyeluruh) yang
menghendaki pengecualian.
3). Yang
bersifat mutlak (tanpa batas) yang menghendaki pembatasan. dan ada pula
4). Isyarat
Al-qu’ran yang mengandung makna lebih dari satu (musytarak) yang menghendaki
penetapan makna yang akan dipakai dari dua makna tersebut; bahkan terdapat
sesuatu yang secara khusus tidak dijumpai keterangannya di dalam Al-qur’an yang
selanjutnya diserahkan kepada hadis nabi.[10]
2.4.1.
Pengertian
Pemuda/ Remaja
Telah
kita ketahui bahwa pemuda atau generasi muda merupakan konsep-konsep yang
dikaitkan dengan masalah nilai. Hal ini merupakan pengertian ideologis dan
kultural dari pada pengertian ilmiah dalam masyarakat pemuda merupakan satu
identitas yang potensial kedudukannya yang strategis sebagai penerus cita-cita
perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya maka ibarat satu
mata rantai yang terurai panjanng, posisi pemuda dalam masyarakat menempati
mata rantai yang paling sentral karena berfungsi sebagai penerus cita-cita
perjuangan bangsa dan berkemampuan untuk mengisi dan membina kemerdekaan.
Pemuda sebagai harapan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda
akan menguasai masa depan.
Masa
muda pada umumnya dapat dipandang sebagai suatu tahap dalam pembentukan
kepribadian manusia karakteristis yang menonjol dari pemuda adalah peranannya
dalam masa peralihan menuju pada kedudukan yang bertanggung jawab dalam tatanan
masyarakat antara lain :
a. Kemurnian idealisme
b. Keberanian
dan keterbukaannya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan baru
c. Semangat
pengabdiannya
d. Spontanitas dan
dinamikannya
e. Inofasi dan
kreatifitasnya
f. Keinginan-keinginan
untuk segera mewujudkan gagasan barunya
2.4.2. Permasalahan, Potensi Generasi Muda Dan
Perannya Dalam Masyarakat
2.4.2.1. Permasalahan
Generasi Muda
Masalah pemuda merupakan
masalah yang abadi dan selalu dialami oleh setiap generasi dalam hubungannya
dengan generasi yang lebih tua. Problem itu disebabkankarena akibat dari proses
pendewasaan seseorang, penyesuaian dirinya dengan situasi yang baru timbulah
harapan setiap pemuda akan mempunyai masa depan yang lebih baik dari pada orang
tuanya.
Masalah antar generasi
merupakan salah satu kesalahan masyarakat yang dikenal sejak dulu kala.
Yang dipernasalahkan adalah
nilai-nilai masyarakat. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa masalah antar
generasi mencerminkan bagaimana kebudayaan masyarakat itu sendiri.
Sehubungan dengan ini para
ahli sosial berpendapat bahwa masalah antar generasi kurang dan hampir tidak
terdapat dimasyarakat tradisional. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa
antar generasi merupakan suatu masalah modern.
Berbagai macam permasalahan
generasi muda yang muncul pada saat ini antara lain:
a. Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme dan
nasionalisme dikalangan masyarakat termasuk jiwa pemuda.
b. Kekurang
pastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
c. Belum
keseimbangannya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang
tersedia, baik yang formal maupun non formal.
d. Kekurangan
lapangan dan kesempatan kerja serta tinggi nya tingkat pengangguran dan
setengah pengangguran dikalangan generasi muda mengakibatkan berkurangnya
produktifitas oleh nilai-nilai kekuasaan dan sebagainya.
e. Masih
langkanya pengalaman-pengalaman yang dapat merelefansikan pendapat sikap dan
tindakanya dengan kenyataan yang ada.
Dengan demikian bagaimana
semua masalah itu agar dapat dipecahkan olah masyarakat merupakan cerminan
kebudayaan masyarakat itu sendiri.
2.4.2.2. Potensi Generasi
Muda
Potensi yang terdapat pada
generasi muda yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut :
a. Idealisme dan daya
kritis
Secara
sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan yang ada sehingga dia dapat
melihat kekurangan dalam tatanan tersebut dan secara wajar mampu mencari
gagasan baru sebagai alternatif kearah perwujudan kearah tatanan yang lebih
baik
b. Dinamika
dan kreatifitas
Adanya
idealisme pada generasi muda mnyebabkan mereka mimiliki potensi kedinamisan dan
kreatifitas, yakni kemampun dan kesediaan untuk mengadakan perubahan,
pembaharuan dan penyempurnaan kekurangan yang ada ataupun mengungkapkan gagasan
yang baru
c. Keberanian
mengambil resiko
Perubahan
dan pembaharua termasuk pembangunan mengandung resiko dapat meleset terhambat
atau gagal. Namun mengambil resiko itu diperlukan jika ingin memperoleh
kemajuan.
d. Optimis dan
kegairahan semangat
Kegagalan tidak menyebabkan
generasi mudah patah semangat. Optimisme dan kegairahan semangat yang dimiliki
generasi muda merupakan daya pendorong untuk mencoba maju lagi.
e. Sikap kemandirian
dan disiplin murni
Generasi memiliki keinginan
untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu
dilengkapi kesadaran disiplin murni pada dirinya agar mereka dapat menyadari
batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.
f. Terdidik
Walaupun dengan
memperhitungkan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti
kuantitatif maupun dalam arti kualitatif, generasi muda secara relatif lebih
terpelajar karena lebih terbukanya kesempatan belajar dari generasi
pendahulunya.
g. Keanekaragaman
dalam persatuan dan kesatuan
Keanekaragaman generasi
muda merupakan cermin keanekaragaman masyarakat kita. Keanekaragaman tersebut
dapat menjadi hambatan jika dihayati secara sempit dan eksklusif, tapi dapat
merupakan potensi dinamis dan kreatif sehingga merupakan sumber yang besar
untuk kemajuan bangsanya. Maka para pemuda dapat didorong untuk menampilkan
potensinya yang terbaik dan diberi peran yang jelas serta bertanggung jawab
dalam menuju cita-cita bangsa.
h. Patriotisme dan
Nasionalisme
Pemupukan rasa kebangsaan,
kecintaan dan turut memiliki bangsa dan negara dikalangan pemuda perlu ditingkatkan
i. Fisik kuat dan jumlah banyak
Potensi
ini merupakan kenyataan sosiologis dan demografis. Dapat dimanfaatkan dalam
kegiatan pembangunan bangsa dan negaranya yang menghendaki pengarahan tenaga
dalam jumlah besar.
j. Sikap kesatria
Kemurnian idealisme, keberanian,
semangat pengabdian dan pengorbanan serta rasa tanggung jawab sosial yang
tinggi adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk dan dikembangkan terus menjadi
sikap kesatria
k. Kemampuan
penguasaan ilmu dan teknologi
Para
pemuda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan
teknologi secara fungsional dapat dikembangkan sebagai transformator terhadap
lingkungannya.[11]
a.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
3.1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
a. Jenis
Diskriptif
Bahwa dalam penelitian ini, penulis
menggunakan penelitian diskriptif. Penelitian diskriptif adalah salah satu
jenis metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek
sesuai dengan apa adanya.
Penelitian Diskriptif ini juga sering disebut
noneksperimen, karena pada penelitian ini peneliti tidak melakukan kontrol dan
manipulasi variabel penelitian.[12]
b. Pendekatan
penelitian
Metode penelitian kualitatif adalah
pendekatan yang temuan-temuan penelitiannya tidak diperoleh melalui prosedur
statistik atau bentuk perhitungan lainnya,
Prosedur ini menghasilkan temuan-temuan
yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan beragam
sarana. Sarana itu meliputi pengamatan dan wawancara, namun bisa juga mencakup
dokumen, buku, kaset video, dan bahkan data yang telah dihitung untuk tujuan
lain, misalnya data sensus.[13]
3.2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti sangat menentukan
sekali dala memperoleh data-data yang valid dan riel, sesuai dengan apa yang di
inginkan atau di harapkan dari pada tujuan peneliti. Kehadiran peneliti di
lokasi penelitian yakni di dusun penyaong adalah sebagai instrument yang
kehadirannya sangat di butuhkan agar dapat memahami, menganalisis data-data
yang di peroleh sehingga menjadi sebuah hasil penelitian yang ilmiah dan dapat
di prtanggung jawabkan.
Untuk memperoleh data yang valid dan
riel sebagai peneliti harus mampu berusaha menciptakan hubungan yang baik
dengan masyarakat atau responden yang menjadi sumber data. Sehingga dapat
memberikan informasi yang tepat dan benar.
Di samping iu juga peneliti berusaha
berprilaku yang sopan agar keberadaan/ kehadirannya di masyarakat/ lokasi penelitian
dapat di terima dengan baik.
3.3. Sumber Data
Yang di maksud dengan sumber data dalam
penelitian adalah orang-orang yang memberikan sumber informasi/ subyek dari
mana data itu di peroleh. Jika seorang peneliti mengunakan wawancara dalam mengumpulkan
data, maka sumber data di sebut sebagai responden yaitu orang-orang yang
merespon/ menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik berupa pertanyaan
tertulis maupun lisan.Oleh karenanya peneliti memperoleh sumber data melalui:
a.
Data
Primer, yaitu data yang dapat diperoleh secara langsung dari lapangan, seperti: responden
(orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti), baik
pertanyaan tertulis maupun lisan.
b.
Data
Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari bahan bacaan, seperti data tentang penduduk Dusun
Penyaong Desa Masbagik Timur Kecamatan Masbagik.
3.4.Instrument Pengumpulan Data
Instrument penelitian merupakan alat
bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Kualitas instrument akan
menentukan kualitas data yang terkumpul. “Garbage tool garbage result”
merupakan hubungan antara instrument dengan data. Oleh karena itulah menyusun
instrument bagi kegiatan penelitian merupakan langkah penting yang harus dip
aha mi betul oleh peneliti (Suharsimi Arikunto, 1995:177).[14]
Dalam penelitian penulis mengunakan
beberapa tehnik pegumpulan data diantaranya sebagai berikut:
1. Observasi
Pengumpulan data dengan observasi
angsung atau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan
mata, tanpa bantuan alat-alat lain.
2. Wawancara
(Interviu)
Yang di maksud dengan wawancara adalah
peruses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab
smbil bertatap muka antara si penanya (pewawancara) dengan si penjawab
(responden atau informan) dengan menggunakan alat yang di namakan pedoman
wawancara.
Wawancara merupapkan proses intraksi
antara pewawancara dengan responden. Oleh karena itu, ada beberapa aspek wawancara
di antaranya adalah karaktristik social responden maupun pewawancara,
penampilan pewawancara, dan latar belakang social pewawancara yang dapat
melancarkan ata penghambat komunikasi.
3. Angket
(Daftar Pertanyaan)
Alat lain untuk mengumpulkan data dalam
penelitian adalah daftar pertanyaan, sering di sebut kuesioner. Kuesioner adalah
rangkaian seri pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah
penelitian, dan setiap pertanyaan mengandung jawaban yang mempunyai makna dalam
menguji hipotesis.[15]
4. Dokumentasi
Penjaringan data dengan metode ini,
adalah peneliti mencari dan mendapatkan data-data primer dengan melalui
data-data dari prasasti-prasasti, naskah-naskah kearsipan (baik dalam bentuk barang
cetakan maupun rekaman), dan lain sebagainya. Dengan adanya data-data tersbut, maka
peneliti akan dapat memecahkan masalah penelitian sekaligus usaha membuktikan
hipotesis penelitian.[16]
3.5. Analisis Data
Setelah data terkumpul, selama melakukan
penelitia perlu di analisa dengan ketelitian, keuletan kecakapan sehingga akan
mendapatkan suatu kesimpulan yang obyektif dari suatu penelitian.
Tujuan dari analisa data adalah membasi
penemun-penemua sehingga menjadi suatu data yang teratur dan tersusun serta
lebih berarti.
3.6. Keabsahan Data
Untuk
mendapatkan data-data yang bisa di jamin kevalidannya dan sesuai dengan
apa yang di inginkan/ di harapkan, maka peneliti menggunakan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Memperpanjang
kehadiran peneliti di lokasipenelitian / lapangan
2. Mengadakan
konsultasi dengan pembimbing
3. Menyiapkan
segala apa yang di butuhkan dalam kegiatan penelitian
4. Mencatat
/ menggunakan data-data yang sudah di peroleh.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Drs. H.A. Hafizh
Dasuki, MA, 1992. Al-qu’an dan Terjemahanya. Semarang. Departemen Agama
Repoblik Indonesi.
2.
Prof. Dr. H.
Muhamad Asrori, M.Pd, 2007. Penelitian Tindakan Kelas.Bandung. CV Wacana
Prima.
3.
Dr. H. Dadang
Kahmad, M.Si. 2000. Metode Penelitian Agama. Pustaka Setia Bandung.
4.
Muhammad Munir,
S.Ag. 2006. Manajemen Dakwah. Surabaya. kencana.
5.
Ridwanaz, 2012, Pengertian Penelitian Deskriptif,
(http:www, ridwanaz.com, di akses 20 februari 2012)
6.
Novaini Husaini
Al-Mundziri, 2012,Remaja Pemuda dan Permasalahanya,
(http:www.wildaznov11.blogspot.com, di akses 30 desember 2008)
7.
Tria Kusuma
Dewi, 2012, Fungsi-Fungsi Manajemen,
(http:www.blog.re.or, di akses 04 desember 2012 pukul 11.01 WIB)
8.
Ilmu Social
Dasar, Arifin Nur, Muhammad, Drs. PUSTAKA SETIA, BANDUNG, cet. II
9.
IAD-ISD-IBD. Nur
Hidayati, Ir. Mawardi, Drs. PUSTAKA SETETIA BANDUNG, cet.V
10.
Dr. H. Dadang
Kahmad, M.Si. 2000. Metode Penelitian Agama. Pustaka Setia Bandung.
BAB IV
LAPORAN
PENELITIAN
4.1.
Diskripsi
Lokasi Penelitian
1. Letak Geografis
2. Keadaan Penduduk
3. Mata Pencaharian Penduduk
4. Keadaan Social Masyarakat
5. Sarana Dan Prasarana
Peranan
Da’i Dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Islam Bagi Remaja Di Dusun Penyaong Desa Masbagik Timur
4.2. Manajemen Dan Upaya Da’i Dalam
Meningkatkan Pemahaman Ajaran Islam Bagi Remaja Di Dusun Penyaong Desa Masbagik
Timur
4.3.
Hambatan Para Da’i Dan Solusinya
4.4.
Kenakalan Remaja Dan Solusi Untuk Mengatasi
BAB V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
5.2.
Saran-Saran
[1]
(Anonim.http://ragab304.wordpress.com/2007/05/10/islam-akidah-syariah-dan-akhlak/.
Diakses pada tanggal 16 November 2011)
[3]
M.
Munir. S. Ag, M.A, Wahyu Ilaihi, S. Ag. M.A. Manajemen Dakwah
[7]
http://pengertianpengertian.blogspot.com/2011/12/pengertian-da’i
[8]
http://pengertianpengertian.blogspot.com/2011/12/pengertian-da’i
[10]
http://www.markazislambogor.com/berita-memahami-ajaran-islam
[11]
http://wildaznov11.blogspot.com/2008/12/remaja-pemuda-dan-permasalahannya
[12]
http://ridwanaz.com/umum/bahasa/pengertian-penelitian-deskriptif/
[13] (http://File.Upi.Edu/Direktori/Fip/Jur._Administrasi_Pendidikan/197203211999031-Asep_Suryana/Copy_%285%29_Of_Langkah_Penelitian_Kualitatif.
[14]
Dra.
Nurul Zuriah, M. Si, Metodelogi Penelitian Social Dan Pendidikan.
[15]
Dr. H.
Dadang Kahmad. M.Si, Metode Penelitian Agama
[16]
Supardi
Petodologi Penelitian Ekonomi Bisnis; Yogyakarta: UII Prees, 2005
Wynn Hotel and Casino - Mapyro
BalasHapusFind Wynn Hotel and Casino, Las 군산 출장샵 Vegas (Mapyro). Real-time driving directions to 시흥 출장안마 Wynn 서산 출장안마 Las 오산 출장안마 Vegas, 89109 US, for 사천 출장샵 Wynn Hotel and Casino,