
MAKALAH
MATA
KULIAH PERBANDINGAN AGAMA
TENTANG
STUDY
HISTORIS TENTAG AGAMA
DOSEN
PENGAMPU : H.M.SHOLEH SYAR’I, S.AG.


Oleh
Kelompok I
Nama
: HUSNIAH
ALWAN ZAMRONI
Semester : VI
PROGRAM KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI (IAIH) PANCOR
2012
KATA
PENGANTAR
Fuji Syukur kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah, karena berkat kemurahan-Nya
makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam makalah
ini kami membahas tentang Study Historis Tentang Agama.
Dalam penyusunan makalah ini kami
menyadari banyak kekeliruan dan kesalahan baik dari bahasa maupun penulisan dan
kesemuanya itu tak lepas dari sifat manusia yang bahru, untuk itu kami dari
penyusun mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan.
Demikian makalah
ini kami buat semoga bermanfaat.
Pancor, Januari 2012
Penyusun
Daftar isi
Cover
Kata pengantar......................................................................................... ii
Daftar Isi.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang............................................................................. 1
2. Tujuan.......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
4. Karya........................................................................................... 13
BAB III PENUTUP
Kesimpulan.............................................................................................. 16
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Agama
adalah satu doktrin dan realitassonal yang ada pada manusia, baik sebagai
individu maupun masyarakat, karena agama ada sejak manusia ada. Artinya, agama
itu seumur dengan usia manusia. Di balik itu, dapat dipahami bahwa sejarah umat
manusia adalah sejarah agama-agama, begitu juga sebaliknya, sejarah agama-agama
adalah sejarah manusia.
Sejarah
agama-agama adalah sejarah umat manusia dengan aneka ragam tindakan manusia yang
terjadi pada masa lalu dengan sandaran doktrin agama, karena doktrin agama yang
mampu membentuk kepribadian umat manusia. Maka dalam kenyataanya beragam
pengalaman ajaran agama bagi pemeluknya sangat ditentukan oleh pemahaman
keagamaannya.
Perkembangan
agama-agama erat juga kaitannya dengan masalah asal usul dan tokoh agama, yang
dikaitkan dengan lingkungan yang mengitarinya, termasuk juga lingkungan dari
tokoh agama, dimana ia dilahirkan. Sejarah agama juga secara tidak langsung
mengkaji persamaan dan perbedaan eksistensi, baik doktrin dan pemahamannya
maupun doktrin dan pengalamannya. Kesemuanya merupakan pengalaman pemeluk agama
sebagai corak dari pengalaman sejarah agama-agama.
BAB II PEMBAHASAN
Sejarah Agama-Agama
A. Ruang Lingkup dan Kedudukan
Agama
adalah satu doktrin dan realitassonal yang ada pada manusia, baik sebagai
individu maupun masyarakat, karena agama ada sejak manusia ada. Artinya, agama
itu seumur dengan usia manusia. Di balik itu, dapat dipahami bahwa sejarah umat
manusia adalah sejarah agama-agama, begitu juga sebaliknya, sejarah agama-agama
adalah sejarah manusia.
Sejarah
agama-agama adalah sejarah umat manusia dengan aneka ragam tindakan manusia
yang terjadi pada masa lalu dengan sandaran doktrin agama, karena doktrin agama
yang mampu membentuk kepribadian umat manusia. Maka dalam kenyataanya beragam
pengalaman ajaran agama bagi pemeluknya sangat ditentukan oleh pemahaman
keagamaannya.
Perkembangan
agama-agama erat juga kaitannya dengan masalah asal usul dan tokoh agama, yang
dikaitkan dengan lingkungan yang mengitarinya, termasuk juga lingkungan dari
tokoh agama, dimana ia dilahirkan
B. Komponen dan Klasifikasi Agama
Pengertian
agama belum ada satu kesepakatan yang jelas dari para tokoh agama. Artinya,
masing-masing tokoh agama memiliki batasan tertentu dalam mendefinisikan agama.
Pendefinisian masalah agama sangat beragam, dan lebih dari 48 definisi. Para psikolog cenderung mengatakan bahwa agama pada
dasarnya adalah berlakunya aturan yang sakral atas profan (suci).
1. Komponen-Komponen Agama
Komponen agama maksudnya adalah unsur-unsur yang menjadi indikator untuk
memahami agama. Dengan adanya komponen tersebut, maka dapat dimengerti mana
yang agama dan mana yang bukan. Menurut Joachim Wach, paling tidak ada 3 macam
unsur-unsur agama.
a) Komponen Thought
Arti dasar dari kata thought adalah pemikiran yang mengandung makna semua
yang dapat dipikirkan untuk diyakini. Sesuatu yang termasuk komponen tought
meliputi aspek teologi, mitologi, dan doktrin atau dogma. Teologi adalah ajaran
yang membicarakan tentang keyakinan terhadap Tuhan, seperti :siapa Tuhan,
hubungan antara manusia dengan Tuhan, begitu pula mitologi, merupakan
serangkaian cerita yang mengandung nilai spiritual sehingga menumbuhkan
keyakinan pada kekuatan spiritual tersebut.
b) Komponen Ritual
Masalah ritual pada dasarnya merupakan ajaran agama tentang tata cara
pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk peribadatan. Pada komponen ini, tentunya
lebih ditekankan pada aspek nilai spiritual yang bersifat normatif. Masalah
ritual juga sebagai karakteristik suatu agama, sebab inti ajaran agama adalah
berbicara masalah ritual yang bersifat spiritual. Artinya, pada hal-hal yang
bersifat spiritual jiwa agama itu yang sebenarnya.
c) Komponen Fellowship
Fellowship dalam masalah keagamaan dikenal sebagai embracer (pemeluk,
peganut, pengikut) suatu agama baik dalam arti pribadi atau kelompok. Suatu
agama erat kaitannya dengan pemeluk. Artinya, tanpa pengikut berarti agama
tidak berkembang atau tidak punya nilai sejarah. Disamping tokoh agama, maka
pemeluk agama merupakan penentu keberadaan agama tersebut.
2. Klasifikasi Agama-Agama
Konsep klasifikasi agama sanga beraneka ragam, tergantung dari sudut
pandang yang digunakan. Ada
yang berangkat dari pandangan normative yang memunculkan aspek substansinya
yang efeknya akan lahir pembicaraan kebenaran agama. Umumnya, klasifikasi
semacam itu di satu sisi memantapkan keyakinan keagamaan, namun di sisi lain
berefek adanya agama yang tersudutkan.
Klasifikasi agama yang cenderung deskriptif bernuansa obyektif dan
bersifat terbuka menerima keberadaan agama manapun. Klasifikasi semacam ini
tergantung pada saudut pandangnya, namun sangat terbuka dan universal.
C. Teori Asal-Usul Agama-Agama
Prof.H.A.
Mukti Ali mengemukakan beberapa teori tentang asal-usul agama. Menurut beliau
teori tentang asal usul agama itu paling tidak ada 3 macam teori :
1. Teori Evolusi
Ilmuan agama juga menggunakan teori evolusi dalam mencari asal-usul
agama. Kekuatan di luar diri manusia yang diyakini dan dipercaya sebagai elemen
yang dominan pada diri manusia telah mengkristal menjadi suatu kekuatan yang
menjadikan manusia itu sebagai sesuatu yang bergantung secara spiritual,
sehingga harus selalu berhubungan secara rutin dan intensif.
Frederich Max Muller mengintrodusir asal-usul dan kepercayaan umat
manusia itu berkembang dari polytheistic dan henotheistic menuju monotheistik.
Teori selanjutnya adalah aliran antropology evolusionisme dan psikologi
evolusionisme.
2. Teori Oer –Monotheisme
Teori ini berangkat dari fakta bahwa suku primitif pada awalnya adalah
penyembah Tuhan yang satu. Teori ini melakukan pandangan bahwa pada mulanya
monotheisme merupakan agama dasar yang telah manusia peluk.
Perubahan ini pada dasarnya
bergerak secara linear dan dipengaruhi oleh kondisi geografik, antropologik,
dan sosiologiknya yang pada akhirnya terjadi penyimpangan dari aslinya. Teori
ini bertentangan dengan teori evolusi, ketika nampaknya terjadi perbedaan arah
yang satu maju ke depan, dan yang lain mundur ke belakang. Namun, titik
persamaan keduanya beranggapan bahwa asal-usul agama berasal dari bangsa
primitif sebagai basic tumbuhnya agama-agama masyarakat pada umumnya.
3. Teori Relevasi
Kata relevasi berarti wahyu, berarti semua agama itu adalah diwahyukan
dari sumbernya, yakni Tuhan. Teori ini sependapat dengan Oer-Monotheisme,
karena relevasi juga mengakui Tuhan yang satu, hanya berbeda dalam substansi
sumbernya. Oer-Monotheisme cenderung mengaitkan dengan bangsa primitive sebagai
asal-muasalnya (the origin), sedangkan relevasi mengakui doktrin
monotheisme ini adalah dari kitab suci dan bersifat revelatif, merupakan ajaran
langsung daru Tuhan.
E. Konsep Toleransi Beragama
Adanya
ajaran agama yang bersifat normatif memberikan peluang untuk munculnya konflik
di tengah umat beragama, baik internal maupun eksternal. Masalah normatif pada
agama telah mempengaruhi keyakina agama secara radikal yang melahirkan adanya
kecenderungan ke arah fundamentalisme. Sikap pemeluk agama yang
fundamentalistik cenderung menganggap orang lain berbeda, bahkan bertentangan.
Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemeluk agama yang menerima ajaran agama
dalam konteks keyakinan, bukan pemahaman. Artinya, agama hanya didudukan
sebagai suatu sistem krido yang eksklusif dan tidak affair.
Umat
beragama yang cenderung eksklusif tersebut memberikan ekses terisolirnya
komunitas tersebut dari khalayak dan pada akhirnya menjadi statis. Beragama
statis menjadikan sikap tidak toleran, bahkan berdampak makin menajamnya
konflik dan pertentangan di kalangan umat beragama. Tidak ada toleransi di
antara umat beragama karena lemahnya studi deskriptif bagi umat beragama,
sehingga komunitas masing-masing pemeluk berjalan secara parsial dan terpisah.
BAB III PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Peneliti, Dr. Syamsuddin Arif, dalam
bukunya, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (2008), sudah
memberikan koreksi terhadap Chittick dalam menjelaskan konsep agama Ibn Arabi.
Tanpa menafikan sisi kontroversial Ibn Arabi sendiri, tokoh sufi ini pun tetap
menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sah di dalam pandangan
Allah SWT. Setelah Nabi Muhammad saw diutus, maka pengikut agama-agama para
Nabi sebelumnya, wajib beriman kepada Nabi Muhammad saw dan mengikuti
syariatnya. Sebab, dengan kedatangan sang Nabi terakhir, maka syariat
agama-agama sebelumnya otomatis tidak berlaku lagi. “Fa inna syari‘ata
Muhammadin shallallahu alayhi wa sallama nasikhah,” tulis Ibn Arabi.
Ilmuwan
studi agama akan dikatakan sebagai ilmuwan hebat, menurut metode ini, jika dia
tidak bersikap terhadap kebenaran agama-agama, alias memandang semua agama
benar, menurut agamanya masing-masing. Jika ditanya pada dia, agama mana yang
benar, dia akan menjawab, “Semua agama benar menurut pemeluknya masing-masing.”
Atau dia menjawab, “Semua agama benar, karena sama-sama merupakan jalan yang
sah menuju Tuhan yang sama.” Minimal, saat mengajar di kampus, dia
dituntut bersikap ilmiah, alias “netral agama.”
izin copas min buat tugas..
BalasHapussukses selalu....